Tera maskodon (Chapter 2)

Cerita dibawah ini murni coba-coba pengen bikin cerita.
10 chapter, cerita dan alur yang tidak beraturan, tempat dan waktu yang absurd.

Disclaimer:

Tanpa seijin saya, tulisan ini hanya boleh dibaca sama situ-situ semua. Yang lain tidak. 

2. Kunang-kunang
Sebagai preman paling ditakuti di Pasar Kriya, tidak ada seorangpun yang berani membantah atau menolak yang dia perintahkan. Bani sudah 6 tahun menjadi penguasa Pasar Kriya, mengambil kekuasaan yang dulunya di pegang oleh Kasrun lewat pertarungan berdarah. Kasrun mati, ajaib Bani lolos dari tangan hukum.

Bagi anak buahnya sosok Bani adalah figur idola. Berkat Bani, mereka yang dulunya pemuda-pemuda yang terlantar di Pasar Kriya karena kabur dari orang tua atau karena keadaan merasa di akui. Bani merangkul mereka, mempesonakan mereka dengan wibawanya dan membuat mereka mencintainya. Ada aura magis yang terpancar dari Bani ketika berbicara. Hangat penuh wibawa namun juga mengandung kekuatan menundukkan dan intimidasi buat lawan bicaranya.

Bagi Ibank, Bani adalah sosok ayah sekaligus teman. 3 tahun lalu, Ibank terdampar di Pasar Kriya setelah menghabiskan sisa uang yang dia punya untuk 2 malam di Bis. Pergi tanpa tujuan dengan luka di hati, sakit sekali. Ibank merasa tidak dihargai oleh keluarganya sendiri. Semenjak kecil, ajaran yang dia peroleh adalah patuh dan hormat kepada orang tua. Kepatuhan mutlak. Ibank tidak sekalipun diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang dia inginkan. Orang tuanya hanya tahu, anak mereka harus menjadi seperti yang mereka inginkan. Mereka membelikan Ibank mainan yang Ibank tidak suka, memasukkan Ibank ke les-les yang Ibank tidak suka. Dan ketika umurnya 16 tahun dan mau menempuh kelulusan SMP, Ibank berteriak cukup. Pergi tanpa tujuan, dan terdampar di Pasar Kriya.

Bani mempunyai kunang-kunang di stoples kaca kecil, itu yang tidak diketahui oleh siapapun. Kunang-kunang itu dia dapatkan ketika dirinya sedang digoda oleh maut, punggungnya tertusuk parang lawan. Ketika matanya sudah mengerjap dan nafas tersengal dan kegelapan didepan mata semakin melebar, cahaya kecil berkelip-kelip itu menghampirinya. Kesendiriannya di dangau itu terisi kehadiran kunang-kunang dan mengusir Izrail maut. Membuatnya hidup. Bagi Bani, si kunang-kunang adalah tempat pengaduan, harapan dan semua rahasianya. Di depan kunang-kunangnya Bani bisa menangis atau tertawa lepas. Seorang preman lebih memilih kunang-kunang untuk tempat mengadu dibanding memilih teman atau tuhan misalnya. Setelah membuat usus lawan terburai atau menggagahi perawan desa, Bani memandangi kunang-kunangnya dan bercerita untuk kemudian terkulai tidur.Seolah-olah, semua beban dan dosa di pindahkan ke makhluk kecil di dalam stoples kaca kecil itu, dan dia merasa menjadi bayi bersih lagi.

Siang itu, ketika Ibank mau menemui Bani di kontrakannya di belakang ruko pak Lim pintu terkunci. 15 menit tidak ada jawaban Ibank mendobrak pintu. Bani terbujur kaku, tubuhnya membengkak dan membiru. Yang mengerikan, dari mulutnya kunang-kunang keluar dengan banyaknya.

Diperutnya ada luka sayat bertuliskan “Ranggadanu”….

>>Next : Chapter 3

Tak Berkategori

6 thoughts on “Tera maskodon (Chapter 2)

  1. goop Maret 10, 2008 / 10:31 am

    wuiiii….
    ciamik bozzz….
    ini mirip pohon yang suka dimaki-maki seorang ayah sebelum masuk rumah selepas dari tempat kerja.
    sepertinya memang setiap kita butuh tempat mengadu ya, bahkan seorang preman.
    Haibat

  2. edy Maret 10, 2008 / 12:20 pm

    ranggadanu itu nama kunang-kunangnya?

  3. almascatie Maret 10, 2008 / 5:20 pm

    bani ini mantan pacarmu yah?

    ceritanya mantap om.. kayaknya calon novelis dunia nih😀

  4. Nazieb Maret 12, 2008 / 4:36 pm

    Jah… keren!!!

    *pingsan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s