Tera Maskodon (Chapter 3)

Cerita dibawah ini murni coba-coba pengen bikin cerita.
10 chapter, cerita dan alur yang tidak beraturan, tempat dan waktu yang absurd.

Disclaimer:

Tanpa seijin saya, tulisan ini hanya boleh dibaca sama situ-situ semua. Yang lain tidak.

_________________________________________________________________________________________________

3. Kasim Ranggadanu

“Ini sudah ke sekian kalinya. Tidak bisa dibiarkan!”

Emosi Wak Hamid meninggi. Ini mengenai kelakuan Pak Kasim yang nyeleneh dan aneh. Mungkin Wak Hamid tidak akan seemosi itu kalau saja kelakuan Pak Kasim hanya sekedar aneh, tapi sekarang sudah dalam tahap mengganggu ketenteraman warga desa Rangga Danu.

_________________________________________________________________________________________________

Kasim kecil dilahirkan sebagai anak yang tampan. Mungkin hasil dari sari jiwa ibunya yang cantik yang diturunkan ke anaknya. Sari jiwa tersebut habis berpindah dari Ibu ke Kasim, sehingga Kasim langsung menjadi piatu 5 detik setelah lahir.

Ketika berumur 10 tahun, Kasim dilarang untuk shalat di masjid. Para tetua marah karena setiap ke masjid, Kasim selalu tertawa keras bergelak. Jamaah terganggu shalatnya. Padahal, Kasim mentertawakan adegan-adegan yang muncul di atas kepala-kepala jamaah yang shalat di masjid. Ada adegan gadis cantik di atas kepala Ansori, pemuda SMA. Adegan ngitung duit di atas Wak Hamid. Adegan-adegan itu adalah penggambaran dari pikiran-pikiran ketika mereka shalat. Wak Hamid sampai malu karena shalatnya tidak khusyu, dan diketahui oleh anak kecil. Warga desa percaya, Kasim punya kekuatan khusus untuk melihat hal-hal seperti itu. Dan memang Kasim mampu melihatnya.

_________________________________________________________________________________________________

Krey bangun terengah-engah. Dia bermimpi seseorang mencekiknya. Tubuh si pencekik berpendar kelap-kelip seperti kunang-kunang…

Catatan:

Ceritanya ternyata nyaris sama dengan salah satu cerpen yang pernah dimuat Kompas dan dibukukan. Kesamaannya soal kemampuan melihat apa yang dipikirkan orang dalam bentuk adegan film diatas kepala orang, tapi lupa karangan siapa.

4 thoughts on “Tera Maskodon (Chapter 3)

  1. edy April 15, 2008 / 2:35 pm

    nanggung, jo😦
    kok fantasinya ga dilanjutin?

  2. Nazieb April 15, 2008 / 3:28 pm

    🙄

    seperti beol tapi “itu”-nya masuk lagi, ndak jadi keluar

  3. Payjo April 15, 2008 / 5:36 pm

    Jujur, lagi kurang mood pas bikinnya. Maaf ya OOm-Oom..😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s