Monas

Diresmikan pada 17 Agustus tahun 1961, sudah hampir 47 tahun monumen berbentuk lingga dan yoni ini berdiri. Dengan tujuan awal agar masyarakat Indonesia selalu mengingat semangat yang berkobar dari pahlawan kebebasan.

Semangat itu berkobar mengaliri 137 m tiang yang menjulang tinggi ke atas. Menopang Api Yang Tak Pernah Padam seberat 14,5 ton. Menggugah hati setiap orang yang melihat, menyadari bahwa kita bangsa yang dipersatukan oleh takdir, takdir sebagai bangsa besar yang ingin lepas dari penjajahan.

Saya sama sekali tidak pernah mengenal lagsung satu pun pejuang kemerdekaan yang masih hidup, tapi lewat Photo Monas di buku RPUL ketika SD saya bisa melihat geliat otot leher para pejuang kemerdekaan meneriakkan “Merdeka Atau Mati” dari lekukan-lekukan Api Yang Tak Pernah Padam. Saya bisa melihat bagaimana semua rakyat Indonesia waktu itu serentak altruis. Menjunjung kepentingan bangsa dibanding kepentingan sendiri.

Tersenyum ketika tangan tersayat bayonet musuh dan darah mengalir dan berucap senyum “Darahku untuk Indonesiaku”. Bukan darah yang keluar karena bangsa sendiri, saudara sendiri. Dan apa yang sudah saya berikan buat Negara?

Saya ini manusia manja, selalu pengen dikasih. Selalu pengen di suapin. Selalu menuntut, tanpa pernah memberi. BBM naik, lalu kenapa? Toh hal yang rutin, jadi semestinya kita sudah belajar dari yang kemarin dan punya trik untuk menyiasatinya toh? Mau mengeluh karena dengan naiknya BBM semua barang menjadi mahal? Lalu kenapa dulu dengan baju karung goni dan badan kurus, mereka masih memberikan nyawa buat kemerdekaan? Akh, saya yang manja. Dan pembantah bermulut besar.

Saya ini bodoh, bukan sarjana atau insinyur walaupun banyak insinyur dan sarjana yang lebih bodoh dari saya dan tidak tahu bagaimana caranya mengurus Negara. Makanya saya titipkan Negara ini kepada orang yang mau mengurus via Pemilu. Orang yang mengemban amanah rakyat. Harapan saya tidak muluk-muluk, hanya berharap Indonesia akan terus menjadi sebuah negara. Itu saja.

Bagaimanapun keadaannya, saya cinta Indonesia. Dan sang pembantah dalam diri saya berkata :

“Lalu kamu akan diam saja melihat Indonesia yang kamu akui keadaannya begini?”

Akh saya ini cuma orang bodoh dari kampung, tapi entah kenapa saya merasa jauh sangat lebih pintar dibandingkan kaum akademik yang menuntut sesuatu dengan cara anarkis. Saya juga sebenarnya ingin Indonesia yang makmur, Indonesia yang sejahtera. Tapi dalam keadaan begini, saya tidak ingin terus mengeluh dan menambah parah keadaan. Saya lebih baik ngrasani daripada menuntut pemerintah dengan jalan barbar, melakukan anarki dengan tameng rakyat. Niatnya sudah benar, jalannya yang salah. Lebih baik diam saja.

___________________________________________________________________________________________________

“Nanti cari saja saya, Ibu Yuni. Kepala Bagian Pelayanan Umum. Nanti kamu tinggal masuk aja, nggak usah bayar. Bawa temen atau pacar juga nggak apa-apa. Asal jangan bawa massa se-RT aja”. Ucap Ibu Yuni, yang saya bantu membuat proposal pameran tentang Monas.

Sebuah ajakan yang sulit untuk saya tolak. Bagaimana Rangers, kopdar Juli nanti kita ke Monas? Bisa masuk gratis lho:mrgreen:

gambar diperoleh dari sini

10 thoughts on “Monas

  1. edy Mei 30, 2008 / 9:52 am

    lho bukannya itu berbentuk lingga dan yoni?
    berpasangan seperti halnya yin dan yang

  2. Payjo Mei 30, 2008 / 9:56 am

    Maaf, salah saya. Makasih Oom, saya edit.

  3. Anggara Mei 30, 2008 / 12:26 pm

    maunya koq gratisan, korupsi nih

  4. leksa Mei 30, 2008 / 1:28 pm

    saya belom pernah ke MONAS.. 10 TAHUN DI JAWA!!!
    Sumpah!!

  5. azkaa,, Mei 31, 2008 / 6:24 pm

    asal gratis mau deh jo.. hhe, tanggal berapa kopdarnya?

  6. suamimalas Juni 3, 2008 / 10:26 am

    Lift-nya masih suka mati gak? serem juga…

  7. nobita Juni 9, 2008 / 12:52 pm

    monas itu bukannya cuma salah satu dari sekian banyak proyek mercusuar Bung Karno?
    cuma benda yang dibuat dan dicari-cari maknanya?
    simbol, simbol, simbol!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s