Sore di Pasar Lama

Kemarin itu brader, saya terjebak di tempat kerja. Nggak bisa pulang ke rumah, padahal jatah saya libur hari itu. Bangun jam 9, makan terus rebahan sambil telponan sampe jam 4 sore. Jam 5 sore saya bangun dan untuk pertama kalinya terbersit untuk menikmati sore di kawasan pecinan Pasar Lama, Tangerang.

Maka bangunlah saya, bawa duid 3 ribu perak. Masih pake baju yang saya pake biasa tidur. Kaos dari Bank BNI, celana panjang di potong pendek yang bolong sebesar uang koin 5 ratus perak di 30 derajat sebelah pantat dan sendal jepit Swallow yang legendaris. Udara segar waktu itu, sesekali angin bertiup agak kencang. Tiba di pinggir sungai Cisadane, menyempatkan diri duduk di pinggir sungai. Air Cisadane sore itu tenang. Beriak kecil, hasil gesekan dengan angin. Aroma sungai, segar sekali saya hirup. Hati saya jadi ikut sejuk brader. Ada capung yang cebok di air sungai, gerak ritmis buah kelapa di air, wangi e’ek dari wc umum, saya terhipnotis brader.

15 menit, saya melanjutkan pergi ke Vihara Boen Tek Bio. Klenteng tertua di Tangerang, memegang 10 rekor Muri. Letaknya sendiri agak terpencil di tengah-tengah pasar. Tempat saya kencan sembari kuliner beberapa waktu lalu. Disini saya terpesona dengan lingkungannya. Terselip diantara bangunan-bangunan baru, ada beberapa bangunan berarsitektur tionghoa. Saya sendiri nggak paham soal sejarah dan budaya Tionghoa, tapi bangunan yang saya temukan hari itu seperti melempar saya beberapa dekade kebelakang. Atap-atap dengan arsitektur khas Tionghoa, ironis karena dinding-dindingnya mau runtuh. Bentuk jendelanya, daun pintunya. Saya cinta Pasar Lama. Beberapa langkah mendekati vihara, aroma eksotik menyergap hidung. Hio. Beberapa umat khusyuk menundukkan kepala di depan altar. Berdoa. Suasana berubah magis. Dan merah di mana-mana

Sayangnya saya tidak sempat masuk brader, saya kurang tahu apa orang umum boleh masuk. Akhirnya perjalanan saya lanjutkan, ke jalan utama yang pastinya semarak di sore hari. Di kiri kanan jajanan dan makanan tersaji menggoda. Asap wangi sate, geliat di kandang penjual sate ular, riuh orang-orang memesan makanan, dan seruputan penuh nafsu air tebu. Saya lapar brader.

Sudah hampir maghrib, sebelum pulang saya harus menuntaskan satu hajat lagi. Menyambangi wc umum di samping Plaza Robinson buat pup. Sudah 2 hari air mati di tempat kerja karena mesin pompa rusak. Ah, kenapa penjaganya harus Neng ayu berkulit putih. Membuat saya tidak leluasa mengejan brader. Takut ada suara meleduk.

*Sayang saya nggak punya kamera, tanpa skrinsyut kali ini brader.

*Terima kasih Oom Slamet, atas hadiahnya. Happy Anniversary!

5 thoughts on “Sore di Pasar Lama

  1. didut Juli 16, 2008 / 8:01 am

    dapet hosting juga rupanya😀

  2. edy Juli 16, 2008 / 11:42 am

    ayo dibikin blog kulinernya😀

    *kirim CV, minta gaji tinggi**

  3. bakhtiar Juli 16, 2008 / 6:35 pm

    wah kalau ada fotonya bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s