Recehan si bapak

Tadi sore sekitar jam 5 menjelang maghrib, ada seorang bapak mendatangi gerai tempat saya bekerja. Wajahnya sudah saya kenal, sangat saya kenal malah. Tapi kali ini tampilannya sedikit berbeda. Tampak rapih dengan kemeja batik dengan bahan halus dan raut muka yang selalu tersenyum ramah.

Lho, memang seperti apa biasanya penampilannya?

Beliau ini sering sekali mengunjungi gerai tempat saya kerja. Malah bisa dibilang setiap hari. Cuma biasanya penampilannya kumal. Kemeja warna pudar –entah aslinya hitam atau biru tua karena terlihat berwarna abu-abu-, topi rimba yang biasa dipakai para ranger/polisi hutan dan dan seorang temannya yang buta. Sehari-hari bapak itu adalah seorang pengemis.

Mau apa si bapak sore-sore begini ke sini?

“Mau nukerin uang receh nggak dek?”

Saya baru sadar, biasanya teman saya yang mengurus uang recehan untuk kasir. Uang receh penting sekali untuk kembalian. Karena konsumen juga pasti males kalo kembaliannya berupa permen.

Saya penasaran dengan profesi pengemis ini –pengemis sebuah profesi kan sekarang ini?-. Saya menebak-nebak, berapa penghasilan seorang pengemis dalam sehari? Dengan menjual rasa kasihan dan simpati, berapa recehan yang bisa didapat dalam sehari? sebulan? setahun?.

Katanya sangat menjanjikan lho. Menurut kabar burung, di Surabaya ada Raja Pengemis asal Madura yang punya 2 rumah mewah dan mobil CR-V. Ada juga desa yang rumahnya bagus-bagus karena sebagian besar warganya jadi pengemis di kota besar.

Bukan mau membuka diskusi ato perebatan soal pengemis yah. Cuman bertanya-tanya aja karena heran soal berapa penghasilan mereka. Kalau MUI sudah mengeluarkan fatwa haram untuk mengemis, lalu yang memberikan uang kepada pengemis apakah haram juga? Terlepas dia ikhlas atau tidak memberikannya.

Eh iya, si bapak nukerin uang recehnya sebesar Rp. 450.000. Ndak tau itu penghasilan berapa hari. Atau mungkin bisa jadi uang  itu juga titipan teman-teman si bapak yang disatuin. Jadinya banyak.

Uang si Bapak.

Tentang polemik pengemis bisa disimak di

Fenomena Pengemis

6 thoughts on “Recehan si bapak

  1. Hey, Jude! April 25, 2010 / 9:10 am

    konon katanya partai kaipang di indonesia adalah jejaring bisnis semi-komersial yang bikin upperling jadi kayaraya😛

    dan meski fatwa haram MUI udah di-enroll, tapi rasanya ga tega juga kalo liat nenek2 meminta2 :}

  2. Juminten April 26, 2010 / 9:22 am

    hahaha…
    kalo aku sih liat orang ngemis2 gitu udah males ngasih duit.
    dulu pas jd mahasiswa, aku sering kebagian ngurusin konsumsi kalo pas lg ada acara kampus.
    jdnya kalo ada makanan lebih, suka kuksh ke mereka.
    lebih “aman” dr pd ngasih duit.😉

  3. Mardianto April 26, 2010 / 9:21 pm

    Hihihi. Menarik sekali🙂

    Ayo-ayo! Siapa yang punya kemampuan untuk memberdayakan pengemis? Kemampuan merebut hati mereka hebat lho. Siapa tahu bisa dapat kerjaan yang lebih bersih dan pendapatan lebih🙂

  4. Takodok! April 27, 2010 / 9:29 pm

    jadi inget film ALNI. Meski belum nonton sih:mrgreen:

    soal pengemis yaaaa.. begitu deh😐

  5. andi sakab Mei 9, 2010 / 1:32 am

    Saya malah pernah ke tempat penampungan para pengemis atau wanita panggilan yang tertangkap oleh satpol PP saat razia se DKI-Jakarta dan tangerang. Tepatnya di daerah kemiri-pasar kemis. Menurut penjaga penampungan tersebut rata-rata pengemis paling minim (paling Pahit) berpenghasilan 300rb/hari.

    Gimana, beda berapa ma gaji ente djo?

  6. Pengepul receh Agustus 3, 2010 / 1:59 am

    Saya Pengepul receh, tapi saya bukan pengemis….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s