#16. Tera Maskodon chap. 4 = Hari Keempat

Masih ingat Tera Maskodon? Setelah lama tidak diteruskan, akhirnya chapter 4 saya bikin. Jadi tinggal 6 chapter lagi ya.

————————————————————————————————-

“Anjiiiing!”

Komar menyumpah dan berteriak sekencangnya. Entah dari mana datangnya, mungkin karena kurang waspada sehingga sekelebatan kaki menghantam lutut kaki kanannya, menggeser tempurung lututnya ke samping dengan bunyi krek mengerikan.

Makhluk ini memang kurang ajar. Dia tidak bertarung, tapi menyiksa. Memaksa mati secara perlahan-lahan. Semestinya ada jual beli pukulan. Seharusnya ada darah yang memuncrat dari dua pihak bergantian.

Lengkap sudah sekarang. Tempurung lutut bergeser, 2 gigi patah yang membuat seisi mulut dibanjiri darah. Mata buta sebelah karena tertutup darah.

Sambil tetap menahan sakit yang semakin lama semakin memupus harapan untuk hidup, Komar tetap tidak habis pikir bagaimana awalnya sampai dia ada disini. Yang dia tahu sepulang dari mengaji di surau, dia langsung mau menuju rumah. Tiba di dekat warung Mak Hasyim, dia tidak ingat apa-apa lagi.

Ketika terbangun tengkuknya terasa sakit dan pandangannya sedikit mengabur. Dia tidak tahu ada di mana. Hal yang pertama disadarinya adalah tempat itu wangi bunga. Entah bunga apa, tapi harum sekali. Setelah pandangannya normal, baru dia tahu dari mana asal wangi bunga itu. Di depannya terhampar pemandangan padang bunga sejauh mata memandang.

Entah berapa luasnya tempat ini, tapi yang terlihat hanya bunga beraneka warna. Komar berdiri dari duduknya, menyapu semua sudut lewat matanya. Dan yang dia dapat hanya hamparan bunga.

“Sedang ada di mana aku? Surga?”

Belum habis keheranan Komar ketika tiba-tiba angin halus berdesir di belakang kupingnya membawa suara memanggil namanya.

“Komar…”

Komar sontak menoleh untuk melihat siapa yang memanggil tanpa menyangka sama sekali tiba-tiba sebuah kepalan tangan menghajar ke arah pipi. Sangat keras.

Komar terbanting ke padang bunga dengan 2 gigi rompal. Hidungnya mencium wangi bunga, tapi bercampur amis darah.

Makhluk di hadapannya tersenyum, dan dari pundaknya mengembang sepasang sayap. Sayap? Malaikatkah? Komar tidak diberi kesempatan karena tiba-tiba saja gada kembali menghajar dan kali ini memecahkan matanya.

Dan sekarang Komar semakin payah dengan tempurung lutut yang bergeser. Nafasnya tinggal separuh dan nyaris mati.

Dan sang makhluk tersenyum semakin lebar.

–***—

Ibu Halimah duduk lemas ditopang anaknya Rahmah. Air matanya tidak berhenti mengalir, mewakili perasaan hatinya. Di tengah ruangan rumahnya tubuh suaminya dikelilingi para santri asuhan suaminya. Surat Yaasin dibacakan keras. Hari ketiga setelah suaminya ditemukan terjatuh di dekat warung Mak Hasyim.

Hari pertama tubuh suaminya menggelepar-gelepar sangat keras. Tubuhnya bergerak tapi kesadarannya hilang.

Hari ketiga tubuh sang suami semakin melemah. Sedari pagi di sudah siap menyadari, hari keempat suaminya bakal mati.

————————————————————————————————-

Jadi tera maskodon itu sepuluh cerpen yang ceritanya satu sama lain tidak sinkron. Nggak nyambung gitu. Jalan ceritanya bisa apa saja, begitu juga pelaku dan tempat.

Alasan bikin karena pengen belajar bikin cerpen, itu saja.

Ini daftar chapter 1 sampai 3

Chapter 3 diproteksi dengan password. Untuk password, seperti biasa minta lewat email ke faisal.hardi@gmail.com dengan subjek Password Tera Maskodon Chapter 3.

9 thoughts on “#16. Tera Maskodon chap. 4 = Hari Keempat

  1. adit-nya niez Juni 7, 2010 / 2:59 pm

    Sejak tera maskodon pertama saya gak ngerti “tera maskodon” itu artinya apa. Terdengar seperti mahluk purba (megalodon) sama mahluk dalam cerita khayalan (poseidon)…:mrgreen:

    • Payjo Juni 7, 2010 / 3:23 pm

      Kalo tera artinya 10, kalo maskodon saya juga lupa DIt. kan dulu ada fasenya saya bikin postingan judulnya aneh-aneh tuh. Kacopet, lira lirla arlirli, zword of the zwordy zwosh ato apalah itu. Artinya ada tapi saya lupa😆

  2. ridu Juni 7, 2010 / 6:37 pm

    wah ini seperti memasuki mesin waktu baca tera maskodon kaya balik ke tahun 2008 dulu hihi…

    • Payjo Juni 7, 2010 / 6:41 pm

      Baru ngeh, chapter 3 aja dibikin April 2008. Udah 2 tahun😆

  3. camera Juni 8, 2010 / 8:48 am

    heehehe…

    saya gk ngerti unk….

  4. Juminten Juni 8, 2010 / 9:39 am

    dirimu yakin membuat cerpenmu di blog, jo?
    gimana kalo di copy paste orang trus dikirim ke media dan diakuinya sebagai karyanya?
    cuma mau ngingetin loh, Jo… hati2 aja.😐
    di internet ini, pembajakan ada dimana2. *pasang muka serius*

    • Payjo Juni 8, 2010 / 6:52 pm

      Cerpen saya juga nggak mutu Mbak Jum, jadi nggak apa-apa lah. Tapi belum kepikiran ke situ juga sih:mrgreen:

  5. ImUmPh Juni 9, 2010 / 1:14 pm

    Waduh… ga ngerti saya Om! Harus baca dari awal yach… males ah…. :ngacirrrr😀

    • Payjo Juni 9, 2010 / 8:39 pm

      Waaah, nggak perlu baca dari awal koq. Karena satu sama lain nggak nyambung. Kalopun nanti ada yang nyambung, itu karena saya kehabisan ide:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s