#32. Hari Anak & Pup Gaya Kambing

Waktu itu jam sebelas siang, matahari sedang panas-panasnya. Tapi sepengetahuan saya, selama ini sepanas apapun matahari menyengat bumi tapi udara dan suasana di kampung saya tetap adem. Mungkin letaknya yang jauh dari kota ditambah masih banyakanya pohon waktu itu.

Karena cuaca yang adem terus itulah, saya yang waktu itu masih kelas satu Ibtidaiyah (Setingkat SD) paling betah main di luar.

Tempat tinggal saya itu unik, baik lokasi maupun demografinya. Terletak di pelosok Serpong. Kalau Bumi Serpong Damai (BSD) itu letaknya dalam urutan alfabet ada di huruf A, maka kampung saya ada di huruf W.

Transportasi yang ada untuk sampai ke kampung saya sejak dulu (Tahun 1994) sampai sekarang tahun 2010 masih sama, yaitu motor. Tidak ada jalur angkot apalagi monorail:mrgreen:

Secara administratif saya tidak tahu kampung saya masuk Rukun tetangga berapa, pun Rukun Warganya. Setahu saya, di lingkungan saya hanya ada 6 rumah. 4 diantaranya masih terhitung keluarga. Satu rumah adalah rumah Wa Inah yang waktu itu mengasuh saya dan sampai sekarang masih sering saya kunjungi.

6 rumah tersebut dikelilingi sawah luas. Hanya ada 2 akses jalan yaitu sebelah utara dan selatan. Sebelah utara akses jalan berupa jalan selebar 1,5 meter membelah sawah sepanjang 100 meter, pemukiman penduduk berlanjut disitu. Sementara sebelah selatan berupa jalan setapak melewati hutan bambu dan kuburan. Menjadikan lingkunan saya yang hanya punya 6 rumah tersebut ekslusif mengarah terisolir:mrgreen: .

Kembali ke awal paragraf, waktu itu sedang panas. Pulang sekolah saya dan teman sekaligus saudara saya berjanji untuk bertemu di semak-semak dekat rumah. Semak yang bisa disebut hutan mini karena walau cuma seluas seperempat lapangan bola, tapi tumbuh pohon manggis dan asem setinggi 20 meter, pohon jambu batu merah dan pohon semak yang tidak tahu namanya membentuk kanopi yang menahan sinar matahari masuk menyentuh tanah.

Kami sedang jongkok sementara celana dipakaikan di kepala sambil menggerogoti sebiji jambu. Ini ritual paling mengasyikkan sewaktu masih kecil. Istilahnya dolbon, modol di kebon. Walaupun di kampung, bolehlah saya berbangga hati karena punya kakus terbesar sedunia. Bandingkan saja dengan kakus di terminal atau pasar-pasar yang sudah kotor dan bau, hanya berukuran tidak lebih dari 1,5 X 1,5 meter.

Semak, kebon orang, kebon sendiri, tegalan sawah sudah pernah saya coba untuk ritual ini.

“Nyorang nyobaan bari nonggeng Sal?” Tiba-tiba si Wawan nyeletuk.

“Pernah nyobain sambil nungging Sal?” Tiba-tiba si Wawan nyeletuk.

“Heh, naonna nu bari nonggeng teh? Modolna?” Jawab saya.

“Heh, Apanya yang sambil nungging? Pupnya?” Jawab saya.

“He’eh, cogeh cobaan. Mantep sia!” Wawan serius sepertinya.

“He’eh, cobain deh. Mantep lo!” Wawan serius sepertinya.

“Mbung aing, jorok jasa sia. Emang aing mbe ngising sabari nonggeng. Ari sia bisa, coba bere conto heula ka aing” Tantang saya.

Ogah gw, jorok banget lo. Emang gw kambing yang pup sambil nungging. kalo lo bisa, coba kasih contoh dulu sama gw” Tantang saya.

Dan tiba-tiba Wawan berdiri, membungkukkan badan untuk kemudian mengejan keras.

Dan pemandangan yang absurd muncul di depan mata. Menjijikkan, menjijikkan sekali. Dan kami tertawa, tertawa keras sekali waktu itu.

Selera humor anak kecil sepertinya tidak kalah absurd dengan pemandangan yang ada.

Selamat Hari Anak Semuanya:mrgreen:

#gambar dari sini dan sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s