#47. Vixy tanpa nama

Saya tinggal di sebuah kampung pinggiran Tangerang. Kampung Kelapa namanya. Sekitar 15 menitan dari BSD (Bumi Serpong Damai). Letaknya yang dekat dengan kota mandiri BSD tidak membuat kampung yang saya tinggali ikut mandiri. Dalam arti kata mampu membangun fasilitas dan kesejahteraan yang layak.Yang ada tanah kampung semakin habis dibeli oleh BSD.

Seingat saya, baru tahun ini jalan desa di conblock. Sebelumnya bertahun-tahun jalan tanah yang kalau hujan beceknya minta ampun. Untunglah soal listrik sudah sejak jaman Pak Harto menerangi kampung.

Satu hal yang lagi yang sampai sekarang menjadi masalah adalah minimnya transportasi. Jalan utama kampung memang 3 tahun terakhir sudah dibeton. Yang jadi masalah adalah sedikitnya angkutan umum. Dari sejak saya masih sekolah SMA, angkot lewatnya 15 menit sekali. Trayek angkotnya adalah Legok-Pagedangan-Gading serpong.

Makanya, di kampung saya transportasi roda dua jadi pilihan utama. Banyaknya dealer motor dan kemudahan mengurus  ditambah murahnya uang muka membuat warga kampung saya pasti punya motor minimal satu disetiap rumah. Begitupula saya.

Sebenarnya saya ingin menulis soal ini sejak 10 bulan yang lalu, tapi belum sempat. Saya ingin mengajak anda berkenalan dengan motor saya. Vixy tanpa nama.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Resmi menjadi tunggangan kesayangan sejak akhir bulan Desember 2009. Banyak teman dan saudara yang bilang saya melakukan blunder karena mengambil motor ini. Dengan gaji pas-pasan saya harus membayar angsuran yang hampir setengah gaji, setiap bulan. Tapi saya punya alasan. Selain karena menyesuaikan dengan bentuk badan yang makin melebar yang tidak mungkin ditopang motor matic, juga karena alasan semprul saya belum punya tanggungan anak istri untuk dikasih makan.:mrgreen:

Mari bermain dengan angka-angka. Umur motor saya sudah 10 bulan. Sementara odometer sudah menunjuk angka 22.388. Jadi rata-rata motor ini menempuh

  • 2238,8 Kilometer perbulan
  • 559,7 Kilometer perminggu
  • 79,95 Kilometer perhari

Dan dia belum mengeluh sampai saat ini. Setia mengantar saya kerja, ngapel, kopdar, nganter sini-sana, main sini-sana. Kecuali satu hal, dia mengeluh karena sampai saat ini belum punya nama.

Ada kebiasaan diantara pengendara motor untuk memberi nama pada motornya. Mungkin supaya merasa lebih personal dan intim, jadi menumbuhkan rasa untuk menjaga dari kerusakan dan hal lainnya.

Nah, saya mau meminta masukan apa nama yang cocok untuk motor saya? Silahkan masukkan nama yang sekiranya cocok di kolom komentar:mrgreen:

6 thoughts on “#47. Vixy tanpa nama

  1. adetruna Oktober 21, 2010 / 11:22 am

    apa yaaaa….karena tidak rewel kita kasih nama ‘si tangguh’ 😛

    • Payjo Oktober 21, 2010 / 11:34 am

      Weh, kedengerannya macho tuh. Kalo bahasa baratnya si tangguh itu apa ya? Biar terdengar keren gitu😳

    • Payjo Oktober 21, 2010 / 5:50 pm

      Di mana kerennya itu Oom?😆

  2. Ping-balik: Pluviophile | Payjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s