#54. Aka

Orang tua saya mempercayakan pendidikan agama anak-anaknya ke pesantren. Minus anak pertama, anak kedua sampai ke 7 semuanya pernah dan masih di pesantren. Ada yang di Bogor, Tasikmalaya, Jakarta dan kebetulan saya dapat jatah paling jauh di Tulungagung.

Alasannya saya nggak tahu pasti. Tapi mungkin karena mereka ingin urusan bekal agama diserahkan kepada ahlinya. Halah.

Sekarang tinggal si bungsu yang masih di pesantrenan. Aka Hafidz Maulana. Panggil saja Aka, 11 tahun . Aka baru beberapa bulan masuk pesantren. Oleh umi, dimasukkan ke pesantren di daerah Cikupa, Tangerang.

Awalnya normal. Nggak ada keluhan nggak kerasan, homesick dan sebagainya. Yang di rumah juga senang, karena Aka memang bandel. Buat kakak-kakaknya, rumah jadi adem karena biang kesel sedang dididik.

Sampai akhirnya kemarin Aka pulang ke rumah. Dengan membujuk dua orang temannya, mereka kabur dari pesantren berjalan kaki sejauh 18 kilometer. Mereka jalan kaki dari jam 10 pagi dan sukses sampe di rumah jam 5 sore.

Reaksi keluarga ada yang marah, ada yang kasihan. Kemudian Aka cerita soal maksa pulang karena pengen minta duit bayar hutang ke temannya. Soal pakaiannya yang satu lemari hilang karena kalau nyuci baju ditinggalin di jemuran berhari-hari, soal korengnya yang gatal karena jarang mandi, soal temannya yang suka malakin dia.

Saya jadi ingat waktu saya pesantren dulu. Umur saya masih 7-8 tahun waktu itu. Di umur segitu, saya harus tinggal di pesantren dengan bahasa dan letaknya di peta pun tidak saya tahu. Di umur segitu saya harus kuat diintimidasi oleh penghuni pesantren yang lebih tua. Yang rutin meminta uang 50 dari jatah 200 perak uang jajan saya setiap hari. Yang membuat saya berlatih untuk memendam semua masalah dan gundah di hati.

Ya begitulah kehidupan pesantren.

Dan malam harinya ketika mengantar Aka kembali ke pesantren, tangan Aka memeluk pinggang saya kuat-kuat dan baru saya tahu belakangan, punggung saya basah karena tangisannya.

Dan saya paham begitu kangennya Aka dengan rumah, perasaan yang pernah saya rasakan juga 14 tahun lalu….

21 thoughts on “#54. Aka

    • Payjo November 22, 2010 / 4:15 pm

      Om juga sabar, jangan maksain hetrix

  1. adit-nya niez November 22, 2010 / 10:11 pm

    Ga ada pesantren yg di sebelah rumah, Jo??:mrgreen:

    • Payjo November 23, 2010 / 5:15 pm

      Sebelah rumah itu ada galian pasir Dit, nggak ada pesantren:mrgreen:

  2. Em Zanu November 23, 2010 / 6:35 am

    sedih jg membacanya,, hik hik.

    • Payjo November 23, 2010 / 5:16 pm

      Sedih kok bengek Zan?

  3. Nazieb November 23, 2010 / 2:13 pm

    Masih ada ya pesantren yang begitu? Dulu sempet nyantri bentar, alhamdulillah temen-temennya baik semua..

    • Payjo November 23, 2010 / 5:17 pm

      Dari sulu sampe sekarang masih ada. Itu sih kasusnya pesantren buat anak-anak kecil. Jadi suka ada yang sok jago, sok penguasa gitu om

  4. unee November 23, 2010 / 5:12 pm

    Day 23 juga pake bahasa ibu kok. :))
    Btw, ini link-nya kok berasa familiar ya ?
    Apa kita pernah bertegur sapa di kehidupan yang sebelumnya ?
    ( baca : blog saya yang lama – red )
    * menatap langit *
    * mikir ceritanya *

    • Payjo November 23, 2010 / 5:20 pm

      Saya manusia dari tahun 2008, hahaha. Saya masih ingat Mbak Unee sejak masih di wordpress koq, gara-gara makhluk keparad yang sudah mati si Hoek itu😈

      Itu saya baca fast reader, karena feed blog Mbak Unee numpuk sejak Day 6 belum sempet dibaca karena nggak ngerti sibuk😛

      • unee November 30, 2010 / 12:26 pm

        WordPress ?
        EMANG SAYA PERNAH DI WORDPRESS GITU ?
        * LUPA *
        * KEPSLOK GIMANA MATIINNYA INI ?! *
        HAHA.
        YAUDAH BESOK2 PAKE BANYAK PAKE BAHASA INDONESIAH DEH~
        *KETERUSAN*
        *BENERAN RUSAK KAYAKNYA KEPSLOKNYA*
        😄

  5. Kombor November 26, 2010 / 11:40 am

    Di pesantren ada juga toh, palak-palakan? Emang kyainya nggak pernah ngajar ngaji?

    • Payjo November 30, 2010 / 9:10 am

      Ngajar ngaji ya tiap hari Om, kalo ngajar biar nggak malak ya saya nggak tau.

  6. salmanita November 29, 2010 / 11:50 am

    subhanalloh, tapi suatu saat akan bermental kuat, tidak cengeng….*saya jadi inget mondok di grabak, purworejo🙂

    • Payjo November 30, 2010 / 9:11 am

      Insya allah nanti mentalnya kuat, jadi lebih siap menghadapi hidup😎

  7. didut November 29, 2010 / 6:09 pm

    kl di pesantren itu gak ada sistem hukuman apa yah? kl ada yg melapor gitu … kasian juga si Aka

  8. oelpha November 29, 2010 / 6:14 pm

    @didut: tentunya ada. tinggal si aka berani lapor ndak ama pengurusnya.

    masa adaptasi jauh dari rumah memang susah. apalagi pada usia semuda aka. aku dulu selepas SD saja masih nangis dleweran setiap kali harus ninggalin rumah.

  9. moyen November 29, 2010 / 7:41 pm

    belum pernah ngerasain kayak yang aka rasain,
    seoertinya sangat berat untuk anak sekecil dia ;(

    • Payjo November 30, 2010 / 9:13 am

      Dilatih Mbak, biar kuat. Biar nggak tumbuh jadi anak yang manja dan punya bekal ilmu agama

  10. Fitri Januari 24, 2011 / 7:46 am

    Kasian ya sbnr na..anak msh bth ksh sayang org tua mlh dijauhkan..tpi ya demi kebaikan mrk apa blh buat. Sy jga lg gundah gulana krn anaku semua jauh dri ku. Anaku yg pertama 3 smp dan 5 sd umur 10 thn lg di pesantren. Berat n sedih bgt krn hrs pisah. Rasanya pgn tak urus sndri anak2u. Tpi klu dirmh pengaruh lingkungan sgt buruk jdi mau ga mau sy paksain mskuin ke pesantren. Mudahan kelak jdi anak yg bermental bja n beraklak baik. Amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s