#70. Buku dan Masa Kecil

Sekitar tahun 1999, ketika Indonesia baru satu tahun mengecap reformasi umur saya masih 12 tahun. Saya kelas 6 SD dan sebentar lagi menjalani Ebtanas, ujian akhir kelulusan sebelum pada tahun 2003 berubah nama menjadi UAN. Saya ingat sekali waktu itu bersekolah di MCT V Rangkasbitung, sekolah dengan bangunan paling mengenaskan diantara bangunan SD lain yang ada di sebuah komplek pendidikan berisi kurang lebih 6 buah SD. Punggung bangunannya melengkung mau roboh, yang dulunya saya kira mahakarya arsitek lokal. Lapangan olahraga dari tanah liat putih yang baru kelas 5 bisa digunakan secara layak setelah sejak kelas 3 guru olahraga kami mengajak anak muridnya gotong royong meratakan tanah.

Kondisi ruangan kelas setali tiga uang. Lantai ubin kasar, kursi-kursi penuh coretan dengan kaki pincang, meja yang sebagian bolong. Malah di kelas 6 salah satu teman sekelas -Rani namanya, dipanggil secara kurang ajar oleh teman sekelas dengan sebutan Kutu Kupret karena hobi mencari kutu- tertimpa eternit dan membuat kelas diliburkan 2 hari. Kamar kecil tidak kami punyai, dulu sempat ada tapi yang tersisa hanya 2 bangunan nyaris rubuh tanpa atap, penuh ditumbuhi semak-semak. Untuk urusan buang hajat, kami memilih menahan mulas dan pulang ke rumah masing-masing atau menumpang kamar kecil ke rumah dinas guru yang ada di samping sekolah.Kontras dengan sekolah sebelah yang berlantai keramik dan memiliki masjid sendiri! Sebuah kisah dan kondisi yang umum bagi siswa sekolah dasar di daerah kecil.

Yang membuat istimewa adalah keberadaan sebuah perpustakaan milik kelurahan yang letaknya disamping sekolah. Yang sejak masuk ke sekolah ini di kelas 3 sudah saya tetapkan menjadi tempat paling menyenangkan. Saat SD, ada 2 kali waktu istirahat pukul 9 dan setengah 11 kalau saya tidak salah ingat. Disaat yang lain jajan atau berlarian main di lapangan, saya memilih untuk pergi ke perpustakaan. Perpustakaan paling besar yang pernah saya masuki waktu itu. Berukuran sekitar 10×6 meter dengan 12 rak raksasa, saya pikir ini surga bacaan yang belum tentu bisa saya baca habis semua bukunya sampai saya lulus SMA!. Maka saya mulai larut menikmati setiap buku yang disediakan di sana.

Saya berkenalan dengan Dinosaurus raksasa, makhluk-makhluk mamalia, Nasrudin Hoja, Godot, Laksamana Ceng Ho, Huckleberry Finn, Oliver Twist. Saya juga kemudian mengenal Enid Blyton, Agatha Christie, Sutan Takdir A, Arswendo, Soe Hok Gie, Mark Twain, Y.B. Mangunwijaya dan ratusan nama pengarang buku bacaan khusus anak yang saya lupa namanya.

Karena waktu istirahat yang sedikit dan jam buka perpustakaan yang hanya sampai siang, membuat saya hanya sempat membaca buku-buku tipis semacam kumpulan puisi atau cerpen kancil dengan ratusan kecerdikannya. Tapi setelah mati-matian mengumpulkan uang jajan untuk membuat kartu anggota seharga 1500 rupiah, buku-buku yang tebal bisa saya bawa pulang dengan waktu pinjaman 3 hari. Mulailah saya menyeleksi buku-buku yang saya bawa pulang harus yang tebal supaya 3 hari baru tandas saya baca. Petualangan Tom Sawyer, Anak-anak manyar, buku-buku Hercule Poirot dan yang minimal berhalaman 150 buah rutin dibawa pulang. Saya masih ingat bagaimana penjaga perpustakaan -saya lupa namanya- yang berambut putih menggoyangkan pena bulu ayamnya setiap mencatat buku pinjaman saya. Jangan lupa bilang spada kalau datang lagi ke sini katanya. Saya nikmati membaca buku di kamar sepulang sekolah, di bawah pohon kelapa Leuwiranji yang berawa, di atas pohon jambu, atau di atas gerbong kereta api Dipo Lokomotif Rangkasbitung sore harinya.

Di kelas 6 pula saya menemukan Rengganis, sebuah tempat penyewaan buku di jalur pulang sekolah dekat rel kereta. Di Rengganis saya mengenal Nick Carter, Mira. W, Bastian Tito, V. Lestari, Abdullah Harahap, Freddy S yang legendaris, Kho Ping Ho yang harga sewanya mahal, 300-500 rupiah perbuku.

Dulu rasanya buku memang berlimpah di mana-mana, gratis dibaca, mudah didapat siapa saja. Berbeda dengan sekarang yang kebanyakan buku dipajang di toko-toko buku, dengan harga yang bagi saya yang sudah bekerjapun terlalu mahal. Sebuah siksaan bagi yang hobi baca macam saya dan jutaan masyarakat Indonesia lainnya.

Dulu perpustakaan dijadikan tempat referensi ilmu pengetahuan. Dari cara beternak bebek sampai membuat mengerti teori gelombang yang cuma sekedarnya diajarkan di kelas IPA.Masyarakat sekarang lebih memilih berselancar di internet untuk mencari informasi dan data, tak perlu repot membolak-balik puluhan buku. Cuma klak-klik dan voillaa…, muncul di depan mata. Saya beruntung bisa mengalami masa ketika bau ruangan perpustakaan, lembaran buku dan suara ketika membuka halaman buku menjadi masa paling menyenangkan ketika saya kecil dulu.

Membaca

Ada yang mau berbagi pengalaman tentang kegemaran membaca buku?

4 thoughts on “#70. Buku dan Masa Kecil

  1. Asop Maret 29, 2011 / 1:11 pm

    😥 Buku memang jendela ilmu ya…. (bukan jendela dunia)😥

    Saya jadi malu sendiri. Saya suka baca buku, tapi baru saat SMA… Padahal, dari segi fasilitas, bisa dibilang cukup mudah bagi saya untuk membaca banyak buku.😐

    • Payjo Maret 29, 2011 / 1:37 pm

      Sekarang masih punya banyak waktu dan fasilitas untuk baca buku kan? Hajaar!!😈

  2. Payjo Juli 28, 2016 / 4:25 pm

    Reblogged this on Payjo and commented:

    Dari segelintir tulisan saya soal cerita masa kecil, tulisan ini menjadi salah satu yang paling berkesan karena merekam hobi masa kecil di sebuah kota yang juga kecil, Rangkasbitung. Bagi beberapa kawan di fesbuk saya, mungkin bisa jadi saksi karena kebetulan ada yang bersekolah di sekolah yang sama. Ini juga sebagai penanda, saya mencoba fitur Blog Ulang milik WordPress.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s