#71. Gerakan Tadabu

Prolog

Sebelum memulai, saya mau bercerita sedikit satu pengalaman jaman saya SD dulu. Waktu itu saya menginjak kelas empat sekolah dasar, caturwulan pertama. Ibu Murdiyati, salah satu guru kesayangan saya memanggil saya ke ruangan guru menyampaikan perihal rencana mengirim saya mewakili sekolah mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kecamatan Rangkasbitung. Hari itu, Ibu Murdiyati memberikan saya dua buah buku sakti untuk bekal mengikuti lomba cerdas cermat, buku RPAL dan RPUL.

RPAL (Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap) berisi daftar nama-nama gunung, palung, sungai, pembagian spesies hewan, jenis manusia purba dan sebagainya. Sementara RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap) berisi daftar nama-nama pahlawan nasional, lembaga penelitian, pakaian adat, provinsi dan sebagainya. Buku yang entah diterbitkan oleh siapa ini banyak dijual di toko buku pinggir jalan, bersanding dengan Atlas dan teka-teki silang.

Banyak informasi dan pengetahuan yang saya dapat dan tidak ada di pelajaran yang setiap harinya diberikan guru di kelas, walaupun saya gagal di lomba cerdas cermatnya.

Tiga bulan kemudian, ketika ujian caturwulan pertama di mata pelajaran IPS ada satu soal yang sampai sekarang masih saya ingat dan pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Entah itu soal nomor berapa, bunyi pertanyaannya “Apa nama tempat penelitian bintang yang berada di Bandung?”. Dan RPUL yang membuat saya tahu Boscha, jawaban soal tersebut. Jauh sebelum saya akhirnya melihat bentuk bangunannya lewat film Petualangan Sherina. Bahkan saingan sekaligus sahabat semeja saya, Septian menanyakan jawabannya ke saya khusus pertanyaan itu. Di pembagian raport saya ranking dua, Septian pertama. Tapi saya menyimpan kebanggaan karena waktu itu saya lebih tahu soal Boscha dibanding dia. Bahkan mungkin satu sekolah cuman saya yang tahu soal Boscha, lewat sebuah buku!.

Latar Belakang

Menurut studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006 dari 169 sekolah yang dijadikan obyek penelitian, Indonesia menempati posisi 36 dari 45 negara dengan kebiasaan membaca tertinggi. Sementara dari segi melek huruf, berdasarkan Human Development Index keluaran UNDP, Indonesia di posisi 111 dari 173 negara pada tahun 2009. Tidak jauh dari kenyataan karena di antara teman-teman saya juga sedikit sekali yang punya hobi membaca.

Banyak alasan kurangnya kebiasaan membaca, diantaranya pandangan bahwa membeli bahan bacaan bukanlah prioritas, dibanding pangan misalnya. Atau merasa cukup mendapatkan informasi dan hiburan lewat media radio dan televisi, atau punya hobi membaca tapi terhalang minimnya sumber bacaan. Saya ambil contoh dari teman-teman terdekat. Kalau harus memilih buku atau rokok, jawaban terakhir yang banyak dipilih. Saya kadang bilang kalau buku sumber informasi, tapi dijawab dengan cukup menonton tipi segala informasi bisa didapat.

Mengenai minimnya sumber bacaan, ini soal pelik yang saya alami juga. Saya bukan orang yang bisa menghabiskan gaji tiap bulan untuk membeli beberapa buku. Bagi saya dan banyak orang lainnya, masih banyak keperluan yang lebih penting dari sekedar membeli buku, walaupun ingin sekali. Saya mengakali dengan cara meminjam buku dari teman, membeli dengan cara patungan, atau mencari versi ebook dari buku yang banyak tersedia di internet. Padahal kalau mau berusaha sedikit, lebih baik pergi ke perpustakaan dan menyewa buku-buku dari sana. Tapi cukupkah jumlah perpustakaan di Indonesia?

Simak tabel berikutJumlah Perpustakaan di IndonesiaDari data di atas, cukupkah jumlah tersebut? Tidak saya kira, karena tidak ideal dengan jumlah penduduk yang nyaris 250 juta jiwa. Dari jumlah yang tidak ideal tersebut juga ditambah fakta bahwa pengunjung perpustakaan di Indonesia masih sedikit

Gerakan Tadabu

Berawal dari data dan fakta di atas, saya atas inisiatif sendiri mencanangkan Gerakan Tahu Dari Buku (Tadabu). Tadabu bertujuan mengajak keluarga, sahabat dan masyarakat memulai kebiasaan membaca buku dan mencintai perpustakaan.

Sebagai kegiatan perdana, saya akan mengajak beberapa kawan terdekat atau siapa saja yang mau untuk berkunjung ke pepustakaan terdekat, menikmati suasananya, membaca bukunya dan menceritakan pengalamannya melalui blog masing-masing. Saya akan meminta bantuan teman-teman dari KBBC (Komunitas Bloger Benteng Cisadane) untuk melaksanakan ini.

Semua bisa membantu dengan cara menyebarkan tentang gerakan ini melalui blog, twitter, facebook dan lainnya atau dengan mendatangi perpustakaan terdekat dan berbagi pengalamannya dengan yang lain.

Siapa tahu nanti di tanggal 17 Mei 2011, kita bisa pergi ke perpustakaan bersama-sama sekaligus merayakan Hari Buku Nasional!.

One thought on “#71. Gerakan Tadabu

  1. Asop Maret 31, 2011 / 9:59 pm

    Kalo Jepang urutan keberapa ya, dalam kebiasaan membaca buku? Kata orang2 Indonesia yang tinggal di sana, orang Jepang di manapun dan kapanpun suka baca buku. Sambil duduk di dalam kereta, sambil nunggu antrean, bahkan ketika bencana Tsunami baru2 ini, ketika ngantre bantuan dan air bersih, mereka sambil membaca buku!😀

    Kata dosen saya, memang di Jepang itu penerbitan buku asing begitu cepat. Maksud saya, begitu ada buku berbahasa asing yang masuk, langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Katanya sih prosesnya cepat, langsung ada versi Jepangnya. Jadi, mulai novel hingga buku pendidikan, bisa dibilang tersedia di Jepang.😀

    *lah malah ngomongin Jepang*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s