Malam Terakhir Bujang

Pernikahan harusnya mencerminkan kebahagiaan, tapi yang saya dan beberapa teman alami di malam sebelum pernikahan seorang sahabat memberi arti khusus tentang makna kebahagiaan pernikahan.

Jadi waktu itu, seorang sahabat yang paling sering saya tulis aibnya di blog ini, Si Bimbim akan melangsungkan resepsi pernikahan. Karena kebetulan jarak rumahnya dekat dengan rumah saya, saya menyempatkan diri untuk mampir dan mengobrol. Kebetulan juga setelah masuk dunia kerja –kita berteman sejak SMA– saya jarang bertamu ke rumahnya. Supaya tambah seru, akhirnya kami panggil beberapa teman sekolah dulu untuk ikut bergabung. Total ada 5 orang berkumpul malam itu. Bukan mau bikin bachelor party, sekedar ngobrol-ngobrol santai sambil melepas ketegangan calon pengantin yang bersiap memasuki dunia pernikahan. Kalau tidak salah ingat ada Saya, Bimbim si teman yang mau menikah, Irwan, Buluk dan Nas.  Semua nama yang pernah saya tuliskan kisah mereka di blog ini.

Pukul setengah 11 malam, saya pamit untuk menjemput kakak kedua saya yang pulang kerja. Dia kerja di daerah Gading Serpong, sementara rumah saya di sebuah kampung pinggir kota dengan akses jalan rusak dan minus lampu. Pukul 11 malam saya sudah sampai ke tempat penjemputan, tapi naas ban depan si Vixy bocor. Karena tanggal tua, baik saya dan kakak kedua saya tidak memegang uang sama sekali. Mendorong motor sampai rumah jelas perbuatan bodoh karena jaraknya 15km. Naik angkot pun mustahil karena angkot rute Gading Serpong – kampung saya cuma sampai sore saja. Akhirnya saya meminta seorang teman melalui SMS untuk menyusul saya sambil bawa uang buat tambal ban, dan Buluk bersedia untuk menyusul. Rencana saya, nanti kakak kedua saya pulang dengan Buluk, sementara saya mencari tukang tambal ban dengan uang yang dibawa Buluk. Menunggulah saya dengan kakak kedua saya di depan tempat kerjanya, pinggir jalan.

Setengah 12 Buluk datang, tapi ternyata malah bawa beban. Dia datang boncengan dengan Nas, semprul. Yasudah, kakak kedua saya tetap pulang dengan Buluk sementara Nas saya seret untuk temani saya mencari tukang tambal ban, yang akhirnya saya temukan setengah jam kemudian dekat Karawaci, nyaris jam 12 lewat.

Sambil menunggu ban Vixy ditambal, saya dan Nas mengobrol sambil merokok ngalor ngidul. Belum selesai ban ditambal, tiba-tiba datang menyusul kakak pertama saya. Saya pikir kakak kedua saya yang sudah sampai rumah memberi tahu soal ban motor saya yang bocor dan karena khawatir, langsung menyusul. Di titik ini saya sadar, koq urusan jemput orang pulang kerja doang sampe melibatkan banyak orang. Tapi jumlah orang yang harus terlibat urusan ini ternyata terus bertambah, begitu juga masalahnya.

Begitu selesai ditambal dan baru jalan 50 meter, ban bocor lagi. Setelah ditambal lagi, saya langsung bergegas pulang, cukup sudah rasanya pengalaman bocor ban tengah malam begini. Pengen cepat-cepat nyampe rumah kemudian tidur. tapi mungkin nasib sedang mempermainkan saya malam itu. Di setengah perjalanan pulang, saya kaget melihat kakak kedua saya dan Buluk sedang berdiri kebingungan. Saya kira mereka sudah sampe rumah dari tadi, karena sudah nyaris satu jam sejak mereka berdua berangkat, dan jarak perjalanan cuma setengah jam.

Lhadalah, ternyata mereka kehabisan bensin. Usut punya usut, Buluk yang pinjem motor Bimbim tidak tahu bensin motornya kosong. Setelah mendorong motor hampir 4km, mereka menyerah dan beristirahat di pinggir jalan sampai kemudian kami temukan. Karena sudah kecapekan, kedua kakak saya langsung pulang. Karena tidak mungkin mendapat bensin, saya, Buluk dan Nas akan bergantian menyetut motor Bimbim. Saya tidak tahu padanan kata dalam bahasa Indonesia, tapi nyetut itu istilah di daerah saya untuk menggambarkan mendorong motor yang mogok. Motor yang mogok dinaiki seorang pengendara, sementara di belakang pengendara lain mendorong motor yang mogok dengan menggunakan kaki. Kegiatan yang sangat menyiksa karena dari betis, paha dan selangkangan bisa tertarik ototnya. Dan sayangnya, yang bisa menyetut di antara kami cuma Bimbim. Doh!

Terbukti, saya giliran pertama menyetut sukses nyusruk. Buluk sama saja. Giliran Nas lebih parah karena badannya yang kecil. Akhirnya saya tinggalin mereka. Sampai di rumah Bimbim, yang lain sedang tidur. Saya bangunin Bimbim dan minta dia menyusul Buluk dan Nas, sementara saya menunggu di rumah Bimbim. Jam setengah 3 pagi akhirnya Bimbim, Nas dan Buluk sampai juga.

Dan besok paginya Bimbim melewati proses resepsi pernikahan dengan selangkangan bengkak karena menyetut motor nonstop sampai rumah.

7 thoughts on “Malam Terakhir Bujang

  1. niez-nya adit Juni 1, 2011 / 7:05 pm

    Saya rasa mereka bakal mengingat masa itu dan akan membalas dendam di malam terakhir masa bujangmu, jo. Ahahhaaa…

  2. Bgenk Juni 1, 2011 / 10:18 pm

    w kirain… ente om yg trakhir bujang… wakwekwokwakwekwok….. ntar kalo ente hajatan w ondangannya pake paypal yakkk….

  3. Asop Juni 2, 2011 / 10:42 am

    Nasib, nasib….😀

  4. Dede rohali Juni 2, 2011 / 11:58 am

    wkwkwkkwkwkkwkwkkwkw BIMBIM sabar ya.. si PAYJO jitak aja tuh bim,, parah orang mau malam pertama malah di bikin bengkak.. wkwkwkwkwk…. judulnya lumayan menarik. kirain embahasannya curhatan si bimbim atau keresahan si bimbim.. ta[i gak taunya kesengsaraan si BIMBIM hahahhaha

  5. Andi sakab Juni 2, 2011 / 7:41 pm

    wah malam terakhirnya jadi berkesan tuh:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s