#Indonesiajujur: Jujur mesti ikhlas

TERHARU – Ny Siami dan Fatkhur Rohman, wali kelas Al, teharu saat saling minta maaf dalam mediasi di balai RW, Kamis (9/6). Foto: surya/faiq nuraini

Waktu itu tahun 2000, saya masih kelas 6 SD dan pelaksanaan ujian masih bernama Ebtanas. Tapi dunia pendidikan kita dari dulu sampai sekarang masih sama, baik itu sistem pengajarannya ataupun kebobrokannya. Termasuk urusan kebiasaan mencontek.

Nyaris semua kawan SD saya dulu mungkin pernah menyontek, kecuali satu atau dua orang yang merasa punya kemampuan dan kepercayaan diri untuk tidak menyontek. Dulu tidak pernah berfikir apakah menyontek itu dosa atau tidak, toh guru-guru saya juga melakukan konspirasi contek massal sewaktu Ebtanas dulu.

Mereka bilang awalnya kalau mereka akan sebisa mungkin membantu kami sebagai anak didiknya supaya bisa lulus semua. Padahal itu cuma menunjukkan ketidakmampuan mereka menjalankan tugasnya sebagai guru mengajarkan kami banyak ilmu dan pelajaran. Terlepas dari apakah kami yang memang bodoh sekali sampai harus dibantu macam begitu.

Saya juga waktu itu bukan orang suci, pernah menyontek. Tapi syukurnya faktor keadaan membuat sayatidak terlalu sering mencontek. Saya waktu SD alhamdulillah ranking pertama terus, cuma kelas 6 pindah ke posisi dua selama dua caturwulan oleh teman sekelas sekaligus rival utama.

Jadi digelarlah Ebtanas tingkat SD tahun 2000. Sebelum pengawas membagikan soal, ada salah satu guru kami yang masuk dan berbicara di depan nempel ke meja. Dia berpesan supaya kami mengerjakan soal yang lebih mudah dahulu, jangan terburu-buru sambil menunggu pengawas lengah untuk memberikan kunci jawaban. Caranya bisa dengan pura-pura meminjamkan pulpen, penghapus atau rautan yang ada sisipan kertas kecil kunci jawabannya.

Saya bocah denga ego besar waktu itu, kunci jawaban tidak saya pedulikan. Percaya dengan jawaban sendiri, ditambah dengan fakta saya adalah satu-satunya murid andalan di sekolah untuk lomba-lomba cerdas cermat tingkat apapun. Ketika pengumuman yang mendapat nilai terbaik ternyata  seorang teman yang seingat saya tidak pernah masuk ranking 10 atau 15 besar di kelas.

Kalau mau jujur memang harus ikhlas. Cukup menghibur diri dengan berfikiran kita terhindar dari dosa dan kebusukan moral.

Nah Ibu Siami, mungkin Ibu tidak layak tinggal di desa Ibu sehingga masyarakat desa mengusir Ibu karena mengajarkan kejujuran kepada anak Ibu. Desa Ibu hanya layak bagi bapak-bapak dan Ibu-ibu yang mengajarkan anaknya menyontek adalah sebuah kewajaran dan hal yang biasa tanpa menyadari mereka mengajarkan anak mereka korupsi juga hal yang biasa. Kita memang tinggal di negara absurd.

#indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran!

Saya mendukung #IndonesiaJujur,

Saya mengajak anda juga
Begini caranya utk mendukung:

  1. Blog post harap ditulis dengan diawali hashtag #indonesiajujur sebelum judul postingnya. Tidak harus panjang, bisa 2-3 paragraf singkat. Bisa juga berupa format “surat terbuka” untuk pihak2 yg terlibat seperti keluarga ibu Siami, atau kepada sebagian warga SDN Gadel 2, atau kepada pengelola sekolah SDN Gadel 2, dll. Yang penting pesan dan kepedulian kita tersampaikan. Contohnya seperti tulisan Bukik berikut: #indonesiajujur Jujur Itu Mujur.
  2. Kirimkan link tulisannya kepada kami melalui email info@bincangedukasi.com untuk kami masukkan ke dalam daftar di bawah agar semua bisa melihat.
  3. Bagi rekan-rekan yang ingin menulis namun tidak memiliki blog, silahkan kirimkan tulisan Anda ke email info@bincangedukasi.com beserta nama lengkap dan boleh juga dengan foto diri untuk kami posting di halaman Bincang Edukasi.
  4. Selain untuk pembelajaran kita semua, kumpulan tulisan dan posting nantinya akan kami sampaikan langsung kepada keluarga Ibu Siami, termasuk putranya AL, untuk memberi dukungan kepada mereka. Sebisanya, akan kami sampaikan kumpulan tulisan dan posting ini kepada pimpinan warga di daerah yang mengusir keluarga Ibu Siami, juga kepada SDN Gadel 2 Tandes, Diknas Kota Surabaya, dan juga Pemkot Kota Surabaya.

Mengutip kata-kata Mas Kresna di sana

Kita tunjukkan bahwa bila sebagian warga berusaha mengusir satu keluarga yang memperjuangkan kejujuran dari kampungnya, maka satu negara tidak akan merelakan hal itu terjadi. Kita suarakan bahwa kita sudah muak dengan kebobrokan sistem pendidikan yang memberi reward dan punishment hanya pada hasil akhir dan bukan pada proses dan pengalaman belajar. Kita tunjukkan bahwa sistem seperti itu telah mendorong dan mendidikkan cara-cara instan yang penuh ketidakjujuran pada peserta dan pelaku pendidikan. Kita teriakkan bahwa kita tidak rela anak-anak pemegang masa depan Indonesia ditumbuhkan dengan karakter penuh cacat.

Karena kejujuran seharusnya tidak membawa kesengsaraan, namun kejujuran seharusnya membawa ketenangan dan kebahagiaan. Demi pendidikan Indonesia.

3 thoughts on “#Indonesiajujur: Jujur mesti ikhlas

  1. Asop Juni 14, 2011 / 10:51 am

    Menurut sumber ini, warga Gadel sana lagi “sakit”.😡 Harusnya mereka malu sekolah yang mereka banggakan selama ini ternyata melakukan praktek kecurangan terkoodinir.👿 Lah ini mereka malah mendukung guru yang bersangkutan.😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s