Pada Sebuah Bus

Pada sebuah bus, di antara getaran kaca jendela, bau keringat ketiak dari 50 orang yang berjejalan di bus minus AC, di antara obrolan dengan seorang teman yang tanpa sengaja ketemu di bus setelah nyaris 5 tahun tidak pernah bertemu, diantara keadaan yang kalau boleh ditukar, akan saya tukar dengan apapun asal bisa saat itu juga ada di rumah, tiba-tiba sudah berdiri seorang pemuda di kursi paling depan bus meminta maaf.

Pengamen, pikir saya. Sama seperti beberapa pengamen sebelumnya. Sama seperti pemuda berambut gimbal di Terminal Senen yang menyanyikan Gali Gonglinya Iwan Fals tadi, sama seperti sepasang bapak-anak di Kebon Jeruk tadi. Sama-sama mengganggu saja, tanpa rasa toleran menambah siksaan kami penumpang bus saja.

Eh tapi pemuda ini tidak sama dengan yang lainnya ternyata. Dia tidak memegang alat musik seperti pengamen sebelum-sebelumnya. Tidak ada gitar, tidak ada kecrekan tutup botol. Akh mungkin dia bukan pengamen, tapi pendakwah antar bus. Yang mengingatkan para penumpang bus tentang neraka dan mulianya beramal sementara dia sendiri menjual agama lewat kata-kata. Tapi kalau pendakwah pemuda yang berdiri dekat saya ini tidak punya tampilan pendakwah yang seragam defaultnya baju koko, peci haji dan kotak amal. Pemuda di dekat saya cuma berkaos oblong, jeans belel, rambut awut-awutan dan mata merah ditambah cara berdirinya yang sempoyongan. Tampilan preman terminal. Mungkin ini perampokan di atas bus? Kalau benar, saya tenang saja karena memang uang di kantong dan digabung dengan yang di dompet cuma ada 15 ribu. Nggak rugi-rugi banget lah kalo seandainya dirampok juga.

Dan saya yakin betul pemuda ini dalam keadaan teler karena matanya sayu, berdiri sempoyongan dan cara bicaranya mirip orang mabuk.

Tapi kalau ini perampokan, koq si pemuda mengawali perampokannya dengan meminta maaf? Tidak lama keluar kata-kata dari mulutnya

“Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam para penumpang bus, izinkan saya berbicara sebentar walaupun suara saya cuma sampai ke bangku baris ketiga. Suara saya nggak bisa ngalahin suara knalpot bus butut yang bapak-bapak dan ibu-ibu tumpangi”.

Katanya setengah berteriak sementara kondektur sempat menoleh ketika bagian bus butut.

“Saya minta perhatiannya sebentar, bapak dan ibu. Tadinya saya mau mengamen saja, tapi apa mau dikata gitar butut saya diambil orang waktu saya tiduran di bawah jembatan padahal gitar itu satu-satunya alat buat saya cari makan secara halal. Tapi walaupun gitar saya hilang, saya tidak mau mencuri bapak ibu. Saya masih punya iman dan takut neraka soalnya”.

Oh, penjual simpati pikir saya. Kelihatannya yang memperhatikan orang ini ngomong cuma saya, karena yang lain acuh saja. Karena saya penasaran, teman yang masih mengajak ngobrol saya acuhkan dulu. Saya fokus ke pemuda tadi.

“Terus kalau tidak punya gitar untuk mengamen, gimana saya dapat uang? Tenang bapak dan ibu, saya nggak bakal minta-minta atau minta duit paksa ke bapak dan ibu”. Sambil mengeluarkan kotak korek api kayu.

Sambil badannya digoyang-goyang bus, perlahan dia keluarkan 2 bungkus kertas tipis. Saya kira dia mau jualan ganja, tapi pengedar bodoh mana yang jualan ganja di atas bis kota? Ternyata isinya 2 buah silet tajam.

Adegan selanjutnya mirip pertunjukkan debus. Dengan sebelumnya meminta supaya yang seguru dan seilmu tidak mengganggunya selama pertunjukkan, 2 silet itu tandas dimasukkan ke mulut dan dikunyah-kunyah. Diakhir pertunjukkan dia kembali melanjutkan bicaranya.

“Bapak dan ibu, silet ini bisa saja merobek lambung dan usus saya. Silet ini tajam sekali. Tapi daripada mencuri, yang bisa saya lakukan hanya ini untuk mendapat uang dan segenggam kebahagiaan. Semoga bapak dan ibu bisa terhibur dan menyisihkan sedikit uangnya untuk saya”.

2 Dua baris kursi pertama tidak ada yang terhibur sepertinya, saya yang dibaris ketiga perlahan mengeluarkan selembar lima ribu ketika dia menyodorkan bungkus permen tempat uang. Uang yang tidak saya kasih ke sekelompok pengamen yang membawakan lagu kesukaan saya, tidak juga saya kasih ke bocah perempuan yang mengamen dngan kecrekan seadanya.

Bukan karena saya terhibur dengan aksi makan siletnya, yang ada saya merinding ngeri karena membayangkan bagaimana pecahan silet tadi melewati lambung dan usus. Kalaupun tidak tersangkut di usus, mengeluarkan pecahan silet lewat anus juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi saya pikir setiap orang bebas memilih usahanya untuk mendapatkan uang dan menggunakan uang tersebut untuk membuatnya bahagia. Dan saya ingin membantu orang itu bahagia, itu saja. Yah, walaupun mungkin kebahagiaan yang dia maksud dengan cara mabuk dan teler mengunakan uang yang saya kasih. Dan bus yang saya tumpangi  sudah memasuki tol menuju Tangerang.

2 thoughts on “Pada Sebuah Bus

  1. agusprast Juni 17, 2011 / 9:17 pm

    wuih, banyak banget ngasihnya Om, biasanya cuma 1000🙂

  2. Bgenk Juni 21, 2011 / 12:42 am

    Wah… serius om ada atraksi kayak gitu di bus…
    wueedddaannn.. urang banten brarti tuh…

    Jangan-jangan 5 tahun lagi, bisa aja ada orang yang bawa motor trail, trus bikin atraksi roda2 gila di dalam bus… hahahaha

    Nice post bro…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s