Rendezvous Cisadane

Setelah sekian lama, saya berkesempatan mengunjungi lagi Cisadane. tempatnya pun sama, pinggiran Cisadane di belakang Plaza Robinson. Tempat paling sering dan nyaman yang biasa saya datangi. Rendezvous dengan Cisadane. Malam itu wajah sungai Cisadane kelihatan berbeda. Biasanya dia menampilkan wajah pongah dan acuh. Siang hari dia pongah bukan kepalang, menunjukkan kekuasaannya di tengah terik matahari. Acuh bukan main, tak ambil peduli dengan lalu lalang kendaraan di pinggirannya dan orang-orang yang menumpang keteduhan airnya. Malam lain lagi, dia merupa wadah merenung bagi siapa saja yang melihatnya.

Tapi malam itu saya lihat dia seperti sosok bodoh tak bertenaga yang tergolek begitu saja membelah Tangerang. Dia terlihat seperti orang tua yang mengharap iba, minta digaruk punggungnya yang kadas penuh sampah. Salah sendiri dia terima saja kiriman sampah dari segala penjuru Tangerang. Coba kirim air bah lah, jangan diam saja pikir saya.

Ibanya beraroma pesimis. Membuat saya yang melihat juga kehilangan semangat. Membuat saya merasa bernasib sama. Dikatung-katung hidup, dijahili dan digerogoti nasib.

Tapi salah saya juga mengumpamakan sebuah sungai dengan makhluk hidup. Tapi tak apalah, toh sebagai tempat merenung dia tak protes. Hanya dengan cara ini saya bisa membuang rasa kesal karena perbuatan jahil kota Tangerang malam itu yang membuat saya kesal bukan kepalang dan menjadikannya sebuah lelucon yang membuat saya dan istri saya tergelak keras menjelang tidur malam tadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s