Dua Minggu Sebelum Pernikahan…

Note : Tulisan panjang

Saya baru saja selesai mandi dan shalat magrib, Uwa Uci sudah menunggu di kursi ruang tamu sambil menghisap rokok. Mungkin masih berharap saya menginap malam itu di rumahnya setelah hampir 8 tahun saya tidak bersilaturahmi. Sewaktu SD sampai SMP saya memang tinggal di rumah Uwa, di Rangkasbitung. Tapi dengan pertimbangan besok pagi saya harus kembali bekerja, maka saya menolak permintaan menginap. Ditambah dari keterangan teman-teman di Rangkasbitung, jalur Rangkasbitung – Citeras rawan perampokan ketika menjelang magrib dan subuh. Badan memang terasa kurang enak, tetapi seikit segar setelah mandi sebelum shalat tadi.

Calon istri pun sudah mewanti untuk pulang sebelum Ashar, tapi karena Uwa mengajak saya mengunjungi rumah anaknya satu-satu, baru sehabis magrib saya bisa bersiap pulang. Sekitar jam 7 malam, motor saya pacu ke arah Tangerang lewat jalur Citeras–Cikande–Balaraja–Cikupa–Citra Raya–Legok. Jaraknya sekitar 60 KM, sekitar 2 jam karena kondisi jalan di Citeras yang ancur-ancuran.

Angin malam itu dingin sekali, saya masih ingat melewati gerbang batas Rangkasbitung dan Citeras. 5 menit kemudian saya juga masih ingat ketika motor yang saya pacu memasuki daerah Citeras yang kiri-kanan cuma pepohonan dan kondisi jalan yang rusak berat. Daerah rawan. Dan hal yang terakhir saya ingat adalah cahaya putih yang datang tiba-tiba dari arah depan. Tanpa sempat terpikir itu apa.

Samar-samar saya mendengar suara orang, hiruk pikuk. Beberapa kalimat yang saya ingat adalah

“Woi ini orang kasian nggak ada yang nolongin”!.

“Itu buka dulu helmnya!”.

Kemudian gelap lagi. Tapi fikiran saya masih berjalan. Saya bingung, lupa sedang apa dan di mana. Semua serba samar-samar, sementara mata susah sekali dibuka untuk melihat keadaan. Mungkin bisa dibuka, tapi otak yang tidak bisa mengolah apa yang sedang terjadi. Kemudian gelap total.

Sengatan sakit di tangan kiri membangunkan saya. Ada tangan yang mencoba mengangkat badan di ketiak, sementara satu tangan menarik tangan kiri saya. Saya lihat pergelangan tangan kiri saya berbentuk aneh, sontak saya bilang ke orang yang mengangkat saya bahwa tangan kiri saya patah. Saya mulai memahami apa yang terjadi. Saya baru saja mengalami kecelakaan, entah ditabrak atau malah saya yang menabrak. Jaket saya dilumuri darah, walaupun gelap saya yakin itu darah. Saya usap rambut, juga dilumuri darah. Kemudian gelap lagi.

Seumur-umur saya belum pernah mengalami namanya pingsan. Hilang kesadaran yang saya alami ya paling ketika tidur. Baru sekali inilah akhirnya saya tahu rasanya. Rasanya aneh. Saya kembali sadar ketika saya dipapah memasuki sebuah klinik. Ada mata-mata terbelalak begitu saya masuk, ada juga ucapan istighfar dari beberapa mulut. Untuk sebuah alasan yang saya tidak mau, saya jadi pusat perhatian. Dari beberapa reaksi yang saya lihat, saya memperkiraakan kondisi saya memang parah. Saya ingin cermin waktu itu.

Saya didudukkan di ranjang pasien, tapi saya menolak rebahan. Saya tidak bisa bernafas lewat hidung, sepertinya hidung saya patah dan ada darah yang menutupi saluran hidung. Saya takut tertidur dan kemudian tidak bangun lagi. Saya duduk, mengucap istighfar terus-terusan karena belum percaya saya kecelakaan. Selama ini saya percaya kemampuan saya mengendarai motor cukup baik dan belum pernah mengalami kecelakaan. Mungkin terkesan sombong jadinya disinilah saya, merintih sambil menggelengkan kepala karena belum percaya apa yang baru saja terjadi.

Orang yang menolong saya *Saya lupa namanya, Gatot kalau tidak salah* akhirnya membawa saya ke rumah sakit dengan memakai angkot. Di angkot ada obrolan menarik.

Saya : “Saya dibawa ke rumah sakit mana Mas?”

Gatot : “Ke RSU Adjidarmo Mas”.

Saya : “Bapak saya dulu meninggal di sana karena sakit, sekarang saya juga dibawa ke sana. Ironis ya”

Gatot : *Diem*

Pendek kata, saya sampai di RSU dan dirawat di ruang UGD karena kehabisan kamar. Saudara-saudara di Rangkas mulai berdatangan sementara saya terus-terusan meminta maaf karena setelah bertahun-tahun tidak silaturahmi, sekalinya datang membuaat repot banyak orang. Umi dan keluarga dari Tangerang datang tengah malam, dan dihadapaan Umi saya menangis. Menangis dengan hidung tersumbat darah dan tangan dijepit kayu itu tidak menyenangkan. Kemudian saya tahu tangan saya tidak patah, hanya pergelangan bergeser setelah di scan.

Dari cerita beberapa orang, akhirnya saya mendapat gambaran bagaimana kejadiannya. Jadi warga mendengar ada suara keras, ketika datang ada 3 motor sudah terjatuh. Satu motor saya dengan saya yang masih pingsan, satu motor dengan pengendara yang juga luka cukup serius dan satu motor tanpa pemilik. Motor saya ada di lajur kiri, teorinya karena jalanan yang rusak dan cuma di pinggiran badan jalan kondisinya bagus, saya mengendarai motor di jalur saya ketika tiba-tiba dari arah depan ada motor yang menghindari jalan rusak masuk ke jalur saya. Fatalnya karena saya tidak menguasai keadaan atau malah saya tertidur karena saya lupa, saya tidak sempat mengerem dan menghindar. Dan bamm! tabrakan terjadi. Tapi kenapa sampai ada 3 motor, sampai sekarang saya belum tahu.

Dua minggu kemudian saya melaksanakan resepsi pernikahan dan segala ritualnya dengan tangan diperban, hidung yang mblesek dan tidak bisa mencium bau atau wangi sama sekali.

 

7 thoughts on “Dua Minggu Sebelum Pernikahan…

  1. Rosid On Street Desember 8, 2011 / 12:44 pm

    Kalau pelajaran “Sebulan sebelum nikah gak boleh jalan jauh” (seperti pepatah leluhur beredar) diambil jangan Om ???😀

  2. Payjo Desember 8, 2011 / 12:54 pm

    Boleh diambil boleh nggak Sid. Yang penting jangan meleng dan selalu berhati-hati. Saya juga awalnya mikir karena saya ngelanggar itu, orang-orang terdekat juga bilang gitu. Tapi setelah dipikir-pikir, ada faktor lain. Dalam kasus gw, kelelahan jadi konsentrasi menurun.Lagian, musibah nggak mengintai ketika kita mau menikah aja kan Sid?😀

  3. Andi Sakab Desember 8, 2011 / 9:33 pm

    Ya kita ambil hikmahnya untuk masa depan. Yang penting udah nikah dan menikmati indahnya pernikahan😀

    • Payjo Desember 9, 2011 / 4:56 pm

      Saya juga masih ndak paham gimana bisa ada 3 motor yang terlibat tabrakan sampe sekarang Ram❓

  4. Aswir Desember 15, 2011 / 2:47 pm

    Udah diingetin pulangnya habis Ashar,,, hehe

    btw tangannya udah bisa berfungsi buat yg sesuatu khan,,,😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s