Kids These Day

Saban pagi sudah jadi rutinitas saya berangkat kerja sambil mengantar Jidan, adik ipar yang ngeselin itu sekolah karena kebetulan searah. Jidan yang mulutnya meracau terus karena itu dipanggil radio rusak dan jadi kewajiban membawa Jidan kalau ada perjalanan jauh supaya ada teman mengobrol diperjalanan membuka siaran radio rusaknya dengan serentetan nyanyian yang tidak sesuai dengan usianya yang baru 7 tahun.

Siaran diawali dengan nyanyian penggugah semangat dari band entah rock entah melayu mendayu bernama Kobe berjudul Positive Thinking. Suara Jidan menggelegar di atas Mio Merah begitu gas saya betot menghela roda. ” Jangan melamun! Nanti kesurupan! dimasuki setan! Jadi tambah edaan!” mulutnya menyon ke kiri dan kanan. Di beberapa bagian cuma terdengar gumaman tak jelas karena dia tak tahu lanjutan liriknya. Separuh perjalanan lagu berganti dengan lagu yang saya tak tahu arti dan judulnya. “Ini lagu pengamen Kak!” sewotnya kalau saya ingatkan jangan bikin malu teriak-teriak di atas motor. Nadanya kira-kira seperti ini “Nona..kutahu nona bla..bla..bla..aku ini cuma penganggur!”. Begitu terus tiap hari siaran radio rusak Jidan di atas motor dan kadang diselingi sesi wawancara dengan pertanyaan ngeselin soal ini dan itu yang merepet terus-terusan.

Tapi soal daftar lagu di siaran ini sering saya sela karena jengah untuk didengar dan tidak pantasnya anak umur 7 tahun menyanyikan lagu tentang persoalan lelaki pengngguran apes mengharap cinta dan tips supaya tidak kerasukan setan. Saya sela dengan menyanyikan lagu-lagu anak yang saya hafal dan sesuai dengan umurnya sebangsa lagunya Joshua, Cindy Cenora, Maisy dan Fitra.

Saya kelahiran 1987 dan menikmati masa emas lagu anak-anak tahun 90an. Saya memang tidak tahu penyanyi anak generasi Puput Melati dan Bondan Prakoso. Saya tahu lagunya tapi saya tidak ingat pernah menonton klip mereka di televisi waktu kecil. Tapi saya besar ketika mandi sore adalah kewajiban karena hanya dengan cara itu ibu saya mengijinkan saya menonton Ci Luk Ba, acara musik yang menjadi kiblat musik anak seusia saya waktu itu. MTV, benda macam apa itu?

Jangan salahkan media yang nyaris tidak menayangkan lagu-lagu anak atau produser yang tidak bernafsu melahirkan bintang seperti Chikita Meidy atau Trio Kwek Kwek. Toh menurut saya bukan itu yang menyebabkan lagu anak yang bisa dinyanyikan anak sekarang sebatas Topi Saya Bundar, Lihat Kebunku dan Potong Bebek Angsa. Orang dewasa semacam saya jadi penyebab utama. Daripada berusaha mencari dan mengajarkan lagu yang sesuai kepada anak, kita malah mencari kambing hitam ke sini dan sana.

Jadi sekarang setiap hari saya sengaja suka menyanyikan lagu Fitra yang terpaksa tidak sekolah karena sekolahnya kebanjiran, atau lagu Enno Lerian soal tempe bacem dan nyamuk nakal. Dan alhamdulillah ada reaksi. Jidan menertawakan saya sambil bilang ” Hahaha, itu mah lagu buat anak kecil Kak”.

 

One thought on “Kids These Day

  1. ramy0809 Maret 24, 2012 / 12:41 pm

    adek saya juga umurnya 7 tahun, dan terlalu terobsesi sama girl band Cherrybelle, tiap hari nongkrong di kamar saya depan komputer dan streaming video-video cherrybelle entah itu video clip atau episode chibi-chibi burger yg dia lewatin gara2 gak boleh nonton di TV sama papa. Saya yang lagi maen laptop di sebelahnya bales dengan nyetel kenceng-kenceng lagu Sherina waktu jadi penyanyi cilik yang merupakan lagu masa kecil saya, kayak “Balon Udara” , “Jagoan” , dll yang ada di laptop, eh malah suruh matiin dan dia ngegedein volume headphone-nya…. kayaknya masalah kita sama om, kids these days #facepalm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s