Pemilihan Kepala Desa Pagedangan Tangerang : Potret Demokrasi Grass Root

Oke, judulnya memang ‘keberatan’. Padahal isinya ya laporan ringan dan singkat berdasarkan pengalaman mengikuti proses pemilihan kepala desa di daerah yang namanya sama dengan  yang tertera di KTP saya. Ada tiga calon kepala desa, yang satu calon incumbent, satu lagi kepala desa periode sebelumnya yang sekarang kembali mencalonkan diri sementara calon terakhir adalah calon kepala desa yang mencoba maju untuk pertama kalinya.

Walaupun sebatas pemilihan kepala desa, uang yang berputar tidak main-main. Setiap calon minimal mengeluarkan uang 500 juta untuk membiayai pencalonan mereka. Yang paling banyak tentu untuk serangan fajar kepada warga. Jumlah pemilih di tempat saya sekitar 4000 jiwa. Kalau satu warga diberi amplop 50 ribu, tinggal kalikan saja berapa alokasi setiap calon kepala desa untuk soal ini. Warga juga antusias menunggu serangan fajar. Dengan tiga calon kepala desa, minimal uang 150 ribu didapat. Desas-desus, di kampung sebelah malah calonnya berani memberi 200 ribu setiap orang. Soal kepada siapa suara mereka diberikan, itu lain soal.

Pagi benar, tempat pemilihan sudah dibuka. Saya tidak tahu jam berapa. Jam sebelas menjelang siang saya dan istri baru datang ke lokasi. Orang sudah mengantri, tukang minuman dan makanan berjejer mengelilingi tenda besar berbentuk tiga perempat lingkaran. Di ujung di atas panggung besar, ketiga calon kepala desa Pagedangan mengibarkan bendera sesuai warna masing-masing. Kuning, merah dan hijau. Bendera yang harus mereka kibarkan sejak pagi sampai nanti jam lima sore.

Panitia mungkin kurang persiapan, atau strategi mereka mengatur pemilih ternyata meleset. Dengan jumlah pemilih sekitar 4000 warga, pengambilan suara belum berakhir sampai jam 5 sore. Pemilih disediakan dua tempat masuk, wanita dan pria. Ada tiga meja pengambilan kartu suara. Panitia dari masing-masing meja akan mengambil satu persatu warga. Tiga meja, tiga microphone, satu speaker output. Ini yang membuat proses pemilihan berjalan lama.

Speaker yang mengarah ke belakang antrian pemilih, suara microphone dari tiga meja panitia saling bersahutan, ibu-ibu yang sibuk mengasuh anak dan mengobrol dan tidak memperhatikan ketika nama mereka dipanggil. Semuanya menyatu. Banyak nama yang dipanggil tapi terlewat karena suara microphone tidak jelas menyebut siapa. Jam satu siang tempat pemilihan ditutup untuk istirahat dan setelah dua jam itu, saya dan istri belum dipanggil juga. Cuma bikin peluh merayapi kulit kepala melewati pantat sampai ke betis. Panas betul siang itu di lapangan Pagedangan.

Jam satu saya dan istri dan Alif kembali ke lapangan. Jam dua siang saya baru dipanggil. Sambil menggendong Alif saya menunggu istri yang belum juga dipanggil. Sempat turun hujan besar. Tanda dari dukun kalau calon dengan bendera merah bakal menang katanya. Karena Alif rewel dan hujan sedikit reda, saya pulang. Jam empat saya kembali menemani istri yang sudah kesal tidak karuan menunggu panggilan. Banyak yang memilih pulang saking kesal menunggu. Isteri saya kebetulan salah satu calonnya masih saudara, jadi pantang mundur sebelum memberikan dukungan.

Ternyata ada pemilih yang namanya hampir mirip dengan nama isteri saya dan menggunakan hak suaranya. Panitia tidak memverifikasi setiap pemilih yang dipanggil untuk menghindari kesamaan nama, dan begitulah jadinya. Panitia semakin capek, polisi yang menjaga mulai emosi dan ibu-ibu yang belum dipanggil semakin darah tinggi. Setelah enam jam menunggu, isteri saya dipanggil dengan nama yang mirip dengannya. Terakhir.

Hasilnya, calon berbendera merah menang dengan perbedaan 60 suara. Begitulah demokrasi tingkat bawah di tempat saya. Lalu, dapat berapa saya dari serangan fajar? Sayangnya saya tidak diserang tuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s