Jangan Lihat Videonya

Sayenko & Suprunyuk

 

What if

Tukang sayur yang saban pagi berkeliling keluar kampung dan komplek, yang suka berhenti di depan pos ronda dekat rumah, yang kau langgani untuk membeli wortel, kentang dan kangkung, yang selalu menyapamu dan ibu-ibu lain dengan senyum sumringah, yang kadang kau bayangkan bisa kau potret dan kau berikan keterangan sebagai potret wajah Indonesia, adalah seorang pembunuh. Meski pembunuhannya sudah lama berlalu dan tidak diniatkan sebagai pembunuhan. Pembunuhannya tidak akan terjadi jika saja orang yang dia rampok tidak bangun dan berteriak, sehingga memaksanya mengayunkan golok sepanjang lengan ke kepala korban, membuat coakan besar di pelipis kiri melewati mata. Dan goloknya baru berhenti saat tertahan di tulang hidung, menancap kuat. Dia terpesona semburan darah dan suara krak tulang yang retak. Dan dia lari, ribuan kilometer. Hukum terlalu lemah untuk mencarinya, dan dia melanjutkan hidup sebagai tukang sayur yang barusan memberimu senyuman sebagai jawaban atas pertanyaanmu bolehkah kangkung seikat seribu ditawar lima ratus. Kau dan aku, kita, tak pernah tahu kalau dalam khayalnya dia menyodok mulutmu dengan goloknya menembus leher belakang. Karena dia rindu dengan semburan dan suara krak itu. Dan melakukan pembunuhan perkara gampang.

Orang yang sedang terkantuk-kantuk di kursi Commuter Line sebelahmu, yang sedikit mendengkur dan beberapa kali kepalanya miring kepundakmu adalah pembunuh. Tetangga berkacamata yang pendiam meski tiap hari kau tegur saat mencuci mobilnya adalah pembunuh. Petugas kelurahan yang mengurus perpanjangan KTP mu adalah pembunuh. Paman, adik dari ibumu adalah pembunuh.

Cerita diatas memang fiksi, tapi tidak sepenuhnya. Nyatanya, kita memang hidup diantara pembunuh. Bukan sekedar pembunuh yang terpaksa membunuh karena keadaan, tapi juga pembunuh yang rindu rasanya membunuh. Calon pembunuh dan psikopat bertebaran. Lihat saja kolom kriminal di portal berita besar, maka bejibun berita pembunuhan dengan segala motif dan cara. Dari yang paling halus menggunakan racun sampai yang paling sadis menggunakan cangkul.

Dan biasanya kita, yang berposisi bukan sebagai korban dan pembunuhnya tapi sebagai penonton hanya akan mengelus dada, berucap istighfar dan kemudian melanjutkan hidup seperti biasa. Seolah nasib tragis para korban pembunuhan hanya cerita diawang-awang, atau cerita di negeri nan jauh. Padahal disana, diatas langit pada sebuah pohon yang tumbuh di Lauhul Mahfudz, di salah satu daunnya tertulis namamu dan skenario kematianmu. Mungkin normal, mungkin terbunuh.

Tulisan dan lamunan ini muncul setelah mengetik “Three guys one hummer” pada kolom Google dan memilih tautan teratas dan menyaksikan tayangan videonya. Hasil perbuatan The Dnepropetrovsk maniacs di Ukraina sana, perihal polah tiga remaja yang mendokumentasikan pembunuhan yang mereka lakukan. Langkah yang tidak akan saya rekomendasikan, kecuali bagi yang bernyali sangat besar. Toh ada hikmahnya, yakni agar selalu waspada. Karena kita memang hidup ditengah para pembunuh. Dan jangan lupa selalu berdoa agar tidak ada salah satu dari kita yang bernasib seperti Sergei di video ituh.

The Dnepropetrovsk maniacs sendiri adalah kisah pembunuh berantai yang merupakan teman sekelas yakni Sayenko & Suprunyuk. Berawal dari kelakuan mereka menyiksa hewan dan kemudian meningkat menjadi perampok dengan modus taksi palsu, dua sahabat ini berubah menjadi pembunuh demi kesenangan. Sergei adalah salah satu korban dari total sekitar 29 korban pembunuhan mereka. Dan semua pembunuhan mereka lakukan hanya dalam selang satu bulan. Pembunuhan pertama terjadi 25 Juni, tanggal 23 Juli mereka ditangkap oleh pasukan khusus yang dikirim dari Kiev untuk menangkap mereka. Pelajarannya, jangan jadikan membunuh kucing dan merampok sebagai hobi saat muda seperti mereka. Kini Sayenko & Suprunyuk menghabiskan sisa umur mereka di penjara.

One thought on “Jangan Lihat Videonya

  1. Ramy Dhia Humam Agustus 9, 2016 / 2:40 pm

    pernah baca tentang Dnepropetrovsk maniacs dulu dan langsung narik perhatian pas liat thumbnail postingan ini si Sayenko dan Suprunyuk kunyuk. Mereka pembunuh berantai yang ngebunuh cuma karena iseng, kayak hobi atau olahraga aja. Di suatu sore, waktu lagi leyeh-leyeh gak jelas di rumah dan bosen, mereka bisa seujug-ujug “jalan-jalan yuk, berburu” lalu sedetik kemudian sudah di jalan menenteng martil, wanita tua yang sedang duduk sendirian di bangku taman pun jadi korban dinginnya kepala martil. Mereka baru ketangkep setelah bunuh 21 orang, karena polisi biasanya kan nyari pelaku berdasarkan petunjuk-petunjuk, kemungkinan motif, pola antar korban, dan mereka gak punya motif, gak milih-milih korban, gak ada alasannya, cuma karena iseng.

    Jadi inget juga salah satu novel series Detective Poirot nya Agatha Christie yang judulnya “Murder is Easy”, yang di akhir novelnya ternyata pelakunya yang bener-bener terlihat baik dan innocent sepanjang novel, yang tidak punya motif dan motivasi untuk membunuh, yang mungkin seperti si tukang sayur, hanya rindu cipratan darah dan bunyi “krek” aja.

    Ya, Murder is Easy. *asah golok*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s