Si Topik Kawan Lama Dari Lewiranji

15 tahun yang lalu aku masih berseragam putih merah sama dengan kawan sebayaku yang lain. Yang membedakan seragam yang kupakai dengan seragam milik yang lain, seragam yang kupakai kusam, kancing tak lengkap dan kerahnya bergaris daki hitam. Yang lain agak lumayan bersih. Selama tinggal di Rangkasbitung aku memang jadi anak tak terurus. Maklum, tinggal jauh dari orang tua dan menumpang dirumah Uwak.
Sejak meninggalnya Abah, Umi memang menitipkan aku ke saudaranya di Rangkas. Uwak memang mengajariku cara mencuci baju sendiri, bekal agar bisa lekas mandiri, tapi bermain pada waktu itu lebih menyenangkan daripada mencuci baju sekolah di sumur umum sebelah masjid.
Tapi ini bukan cerita soal masa susahku. Ini cerita soal aku dan si Topik kawanku. Kawanku saat SD memang banyak tapi kali ini ku khususkan cerita pada si Topik.

Kawanku si Topik tidak tampan. Ini penting oleh sebab itu ku sampaikan paling awal. Pada jaman itu sejauh yang ku ingat, si Topik kawanku ini memang tidak tampan. Tapi kala itu, tak ada murid SD asal kampung yang terlihat tampan, jadi Topik tak perlu berkecil hati kala itu. Kecuali mungkin kawan karibku lainnya yang selama tiga tahun merangkap sebagai rival sekelas dalam soal perebutan peringkat pertama, Septian. Anak yang baik, sayang keburu meninggal diusia muda.

Meski dijauhi ketampanan dan, lupa kutambahkan, kulitnya hitam dengan bangga kuklaim dialah salah satu kawan karib terbaikku pada masa SD. Masa dimana aku hidup jauh dari orang tua dan membutuhkan kawan untuk menemaniku mengobrol dan bermain-main. Menemaniku menghabiskan masa kecilku yang ingin segera kulewati karena ingin segera dewasa.

Aku lupa awal dulu berkenalan. Mau kutanyakan pada orangnya langsung tapi tak mungkin. Sejak lulus SD atau kalau dihitung sudah 16 tahunan kami tidak pernah melakukan kontak. Ada kabar burung, dia sekarang kerja diluar pulau Jawa, mungkin Sumatera atau Kalimantan. Atau masih menginjak bumi Jawa, tapi bumi Jawa bagian jauh. Mungkin.

Si Topik ini tinggal tak jauh dari rumah Uwakku, Uwak Uci namanya. Tidak jauh tapi tidak pula dekat. Berbeda Rukun Tetangga. Aku di RT 4 dekat jalan raya. Sementara dia di RT 5 kalau tidak salah, dibelakang sana, dekat dengan daerah rawa yang banyak empangnya. Yang banyak kebun kangkungnya. Yang banyak air menggenangnya. Yang kalau musim penghujan, air meluap kemana-mana. Tempat anak-anak memancing, berenang dan ee’ di parit yang mengalir menuju sungai Ciujung. Mungkin disitu awal kenalnya.

Tapi yang membikin kami akrab adalah karena perangko. Dua bocah SD dari daerah pinggiran Banten diakrabkan oleh perangko. Ceritanya akibat membaca soal filateli di tabloid Fantasi, aku mulai mengumpukan perangko. Jaman dulu berkirim kabar masih ramai menggunakan surat. Amplop yang masih ada perangko menempel, kupinta dari saudara, tetangga dan teman. Kurendam di air berjam-jam supaya lepas sendiri. Lalu setelah kering, kumasukkan ke album perangko yang kubeli di toko buku seberang stasiun Rangkas. Sebelah toko cetak dan cuci foto bernama Mega, yang bercat kuning.

Si Topik yang gemar mengumpulkan barang bekas dan dijual ke pangkalan, suatu hari menemukan dua buah album perangko lengkap dengan isinya diantara gulungan tembaga bekas kabel, besi rombeng dan limbah plastik. Dia dekati aku karena tahu aku gemar perangko. Dia tawarkan satu perangko dengan harga dari lima ratus hingga dua ribu rupiah. Jahanam betul dia, padahal jatah uang mingguanku cuma sepuluh ribu. Tapi perangkonya memang dahsyat. Perangko cetakan tahun 1940-1998 dia punya. Perangko seri hari olahraga nasional dia punya. Belum lagi perangko luar negeri dari Portugal, Swedia, Swiss, Inggris dan lainnya. Maka tak mau tidak, kubeli dengan cara kucicil selama beberapa minggu. Aku tak keberatan karena aku tahu kondisi ekonomi keluarganya waktu itu sedang susah, meski tetap bahagia kulihat. Keluarganya ramah luar biasa. Dua bulan kemudian mungkin karena kasihan, dia minta ditebus lima ribu rupiah sisa perangko miliknya yang masih puluhan jumlahnya itu. Itu sekitar kelas 6 SD. Kalian tahu, manusia baik bisa dilihat saat mereka masih anak-anak. Dan pilihan untuk berteman dengan Topik dulu adalah pilihan tepat. Tak pernah berkelahi, sayang dengan keluarganya, setia pada kawannya. Tak banyak kawan yang bisa diajak main ke kebun sampai sore hanya untuk sekedar mengumpulkan buah kecapi yang berjatuhan.

Kelas 3 SMP kuserahkan koleksi perangkoku ke salah satu kawan wanitaku. Bukan sebagai rayuan, tapi memang sudah bosan dan kebetulan dia punya hobi yang sama. Kalau sempat mungkin kutanyakan padanya, masih disimpan atau tidak perangko-perangko itu.

Aku dan Topik banyak menghabiskan waktu di rawa-rawa itu. Memancing ikan tampele yang tak bisa dijadikan lauk makan karena ukurannya kecil, bermain bola sampai telapak kaki berdarah terbeset cangkang keong yang muncul dari dalam lumpur lapangan, bermain rakit di genangan air pekat hasil limbah rumah tangga seluas setengah lapangan bola, dan kadang menumpang makan dirumahnya. Seringkali malahan. Dengan menu yang paling sering kudapat, ikan tongkol dan tempe goreng. Neneknya sendiri yang menggoreng. Aku lupa kepada kedua orang tuanya. Yang kuingat hanya neneknya. Nenek yang bibirnya selalu menyala warna merah karena tak henti mengunyah sirih. Neneknya juga kulihat senang saja cucunya berkawan denganku. Mungkin neneknya tahu kalau aku juga dulu anak baik.

Dari Topik ku tahu caranya membikin joran dan memancing ikan. Juga membikin pletokan, senapan dari bambu berpeluru biji kopi mentah. Dari dzuhur sampai Ashar kami bermain. Kerap juga kutemani dan kubantu dia mengerjakan tugas rumah seperti memetiki kangkung liar di rawa, atau sekedar mengambil air di sumur umum dekat rumahnya. Sebagai balas budi, meski kami tak menganggapnya sebagai budi yang harus berbalas, aku mengajarinya mengerjakan tugas sekolah. Bolehlah kusebut diriku pintar waktu itu, peringkat dua besar dikelas tak pernah lepas dari tangan sejak kelas 3 sampai kelas 6. Jika kantuk datang, maka kami tidur bersarung diatas lantainya yang terbikin dari semen tapi semulus ubin. Sarung kupakai karena selain dingin dari angin yang menyelisik dari celah bilik rumahnya, nyamuk jahanam juga tak kalah banyak. Dekat rawa soalnya.
Seingatku, kami memang lebih akrab setelah jam pulang sekolah. Disekolah, kami punya teman bermain sendiri. Sekolah SD ku, yang bangunannya kini sudah ambruk dan punah, menjadi sekolah paling kusam diantara empat SD lain di sebuah komplek pendidikan. Tak punya WC, tak punya lapangan (Meski akhirnya punya juga pas kelas 6, buah kerja keras kami memaculi dan meratakan tanah dipinggir jalan), tak punya ruang perpustakaan, tak punya ruang UKS, tapi punya kebahagiaan. Topik salah satu kebahagiaan itu.
Dengan banyaknya kenangan itu, sayangnya sampai 16 tahun kemudian kami belum pernah bisa bernostalgia sambil menyeruput kopi berdua macam orang kebanyakan. Belum ada satupun alfabet yang keluar dari mulutnya, atau mulutku yang sampai ke kupingnya, atau kupingku. Rupa mukanya kini pun aku tak tahu. Tak sempat kulacak melalui facebook.
Harusnya cerita ini berakhir bahagia dengan ditutup foto aku dan Topik saling berangkulan setelah sekian lama tak berjumpa. Sayangnya perjumpaan itu memang sampai saat ini belum terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s