Kematian Udin

Tatapan mata Udin kosong. Sudah tidak menyimpan kehidupan. Hanya sesekali matanya berkedip pelan. Seolah tidak peduli jika dua dokter selama setengah jam terakhir berusaha keras memasukkan selang kateter kedalam kelaminnya. Sudah sepuluh kali dilakukan tapi selalu berakhir sama, selang kateter hanya bisa masuk 5 cm karena terhalang sesuatu dan terpaksa ditarik keluar dengan ujung selang ditutupi darah.

Tapi Udin bukan tidak peduli. Bukan pula karena kuat menahan sakit. Tapi reaksi yang sanggup dia lakukan saat itu hanya berkedip pelan. Badannya sudah lemas sejak kemarin. Dari diagnosa dokter dan hasil rontgen, ada batu ginjal yang membuat kandung kemihnya tertutup dan membuatnya tidak bisa kencing selama beberapa hari. Air seni yang tidak keluar meracuni tubuhnya. Membuat tubuhnya limbung saat berjalan, sampai kemudian membuatnya ambruk.

Setelah usaha yang entah keberapa kali dokter menyerah, merekomendasikan langkah operasi tapi di tempat lain. Kutanya biayanya, dokter klinik tak bisa memberi jawaban. Hari semakin sore, jam semakin dekat dengan waktu tutup klinik di akhir pekan. Dengan sedikit panik kutekan angka untuk menghubungi klinik tujuan, diseberang terdengar jawaban. Baru sempat beberapa kata yang keluar, sambungan terputus. Pulsa habis. Kupinjam telpon, mengulang langkah yang sama. Tapi kini tak pernah lagi muncul jawaban dari seberang meski lima kali diulang.

Udin tak terpengaruh suasana panik di sekitarnya. Matanya tetap kosong. Tarikan nafasnya pelan. Atau lemah.

Akhirnya kucari di internet informasi biaya, kupaksa juga dokter disitu memberikan angka perkiraan. Kutanya juga salah seorang teman blogger yang kebetulan dokter hewan melalui whatsapp, jawaban mereka sama, biaya operasi bisa jutaan. Tak ada uang sebanyak itu.

Kutanya kakak, pemilik Udin “Dioperasi atau diikhlaskan? “

Kuberesi administrasi dan menebus obat di klinik. Kubawa Udin pulang. Berharap keajaiban, kupaksa Udin menelan obat. Meski sadar, akan sangat mustahil bagi Udin untuk bisa bertahan sampai besok pagi. Tapi ajaib, Udin masih punya tenaga untuk menolak obat meski sedikit. Udin tidak pernah suka minum obat selama hidupnya. Tapi hanya keajaiban itu yang muncul.

Keesokan paginya Udin pergi. Meski hanya dua tahun hadir dan perannya sebagai seekor kucing persia di konstelasi semesta nyaris tak berarti, tapi Udin cukup berarti untuk sebagian kecil orang yang mengenalnya. Termasuk aku yang hanya intim dihari terakhirnya, dan mempersembahkan tulisan ini untuknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s