Perkawanan Milenia

Dari kantongnya keluar sebungkus rokok U Mild dan korek api gas, tak lama dinyalakan. Kurekam baik-baik karena obrolan seru malam itu mungkin diawali sebuah gerakan sederhana seperti membakar rokok misalnya.

Sebagai seorang generasi milenia, atau sebut saja sebagai generasi yang tumbuh dengan iringan teknologi maju terutama internet, perihal berkawan atau kita pakai saja istilah persahabatan, bisa dilakukan dengan banyak sekali jalur media. Jika dulu hanya ada istilah sahabat pena, kini mungkin sudah ada istilah untuk sahabat facebook, sahabat twitter dan sebagainya.

Dengan bermaksud untuk terlihat keren dengan menyitir kutipan filsuf terkanal dari masa lalu yang karyanya tidak pernah kubaca, maka aku ambil sebuah kutipan dari Seneca, filsuf yang mati disuruh bunuh diri oleh Kaisar Nero karena dituduh ikut serta dalam upaya pembunuhan sang kaisar, yaitu Homo Homini Socius. Jika diartikan kurang lebih manusia itu adalah sakral bagi manusia lain. Dalam konteks kehidupan sosial, ini menunjukkan kalau manusia membutuhkan manusia lain dalam sebuah hubungan dan salah satu jenis hubungan itu adalah persahabatan sebagai salah satu faktor penting bagi kehidupan manusia.

Dengan banyaknya platform persahabatan yang kita punyai, apakah nilai sebuah persahabatan antara kita dengan orang lain berubah nilainya?

Ada sebagian yang mengkategorikan nilai dan kadar persahabatan mereka dengan orang lain menggunakan kata yang disematkan. Kenalan untuk yang sekedar kenal, sobat untuk kawan dekat, atau soulmate untuk teman yang terpilih.

Lalu teman macam apa yang saat itu duduk disebelahku, menghisap sebatang rokok U Mild dan melepaskan asapnya kejauh karena tahu saat itu aku sudah 43 hari memutuskan stop menghisap rokok?Kalau ditilik dari intensitas pertemuan antara kami berdua, mungkin aku dan dia sebatas kenal biasa sahaja. Dalam 2-3 tahun terakhir, baru malam itulah kami bersua lagi. Ngobrol didepan minimarket yang menyediakan kursi bagi pengunjungnya di teras depan. Diantara kepulan asap rokoknya, berentetan keluar kegelisahannya. Soal kuliahnya, soal pekerjaannya, soal para borjuasi kapitalis yang menjajah kampungnya. Kutanggapi sesekali, dengan tema yang sama.

Pertemuan itu berlangsung sebentar, mungkin sejam. Tidak perlu lama, diakhiri dengan pertukaran buku. Saling pinjam. Siasat yang dilakukan para kutu buku kere. Membeli buku setiap bulan adalah kemewahan. Harga buku lebih mahal dari beras satu liter. Salahkan borjuasi kapitalis sialan, umpatnya.

Maka berpindah tanganlah buku Emha Ainun Nadjib dan AA Navis dari tanganku ke tangannya. Darinya kupinjam buku sejarah Banten dengan halaman tebal karangan seorang Prancis (?), yang ternyata setelah hampir sebulan, belum juga tandas bab 1 kubaca. Sekalian kubayar kartu perdana internet yang kubeli darinya.

Kemudian kami pulang, menerobos udara dingin sisa gerimis. Hanya satu jam tapi sudah cukup untuk menegaskan kalau aku dan kawanku itu, meski tak sering bertemu, masihlah terikat dalam perkawanan. Setidaknya, aku masih menganggapnya kawanku. Kuantitas pertemuan nyatanya memang tidak berbanding lurus dengan nilai pertemanan. Kemajuan zaman dan teknologi tidak menggerus nilai persahabatan, hanya medianya saja yang terus berkembang.

Lupa kubilang, nama kawanku malam itu adalah Agung.

4 thoughts on “Perkawanan Milenia

  1. tuaffi Oktober 14, 2016 / 10:04 am

    komunitas pinjam- pinjaman buku itu ada dimana to? saya kok tertarik. hehe.

    • Payjo Oktober 14, 2016 / 10:06 am

      Komunitas bawah tanah, jadi jarang terdengar.

  2. Chic Oktober 14, 2016 / 5:02 pm

    aku kok agak susah tuker-tukeran buku ya? Posesif soalnya. Hahahahaha. Takut rusak bukunya.

    • Payjo Oktober 14, 2016 / 5:06 pm

      Temenku juga wanti wanti, jangan sampe rusak atau ketilep halamannya. Soalnya perjuangan banget buat dia beli buku. Tukeran bukunya sama orang yang bisa kita percaya aja, dan kalau bisa tukeran bukunya yang sepadan juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s