Yayi Zulfasari : Untuk Perempuan Yang Sudah Memberikan Semuanya.

bunda-merenungLelaki bodoh dipinggir sungai Cisadane melongo menatap perempuan yang dikasihinya membuang muka, menghindari tatapannya. Matanya menatap aliran air sungai yang tenang, tapi tak mampu untuk membantu menentramkan hati sang perempuan.

Pundaknya naik turun mencoba mengatur nafas untuk mengendalikan amarah. Tapi hatinya kadung muntab. Muntab kepada lelaki yang kini hanya duduk melongo seolah tak memiliki salah apa-apa. Tak melakukan apa-apa.

Sang lelaki sendiri mahfum, dirinyalah yang jadi penyebab amarah. Sang perempuan hanya meminta waktu dan perhatian, yang tak bisa didapatnya di rumah. Dan dia menjanjikan kedua hal itu saat segala upayanya berhasil meyakinkan sang perempuan untuk mau mendampinginya. Bahkan sang lelaki sesumbar, dia punya banyak waktu untuk diberikan kepada perempuannya itu. Dan untuk kesekian kali, janji itu gagal.

Kembali sang lelaki mengingat bagaimana semua puji-pujian, semua analogi percintaan,  semua panggilan sayang dan semua janji mimpi-mimpi di masa depan sudah tandas diberikannya, kepada sang perempuan pujaan hatinya. Kini saat usahanya terbayar, nilai berjuang mungkin terasa berkurang. Yang mana adalah kesalahan paling bodoh yang bisa dilakukan lelaki yang ingin menjalin hubungan jangka panjang, sesuai janjinya bertahun silam. Yang membuat perhatiannya berkurang.

Dan kemudian air mata jatuh dari sudut mata sang perempuan. Mata yang dulu membuat dirinya jatuh hati saat pertama bertemu.

“Mata sejuk yang mengusir kering gersang,” ucap sang lelaki dulu.

“Kamu pelangi yang memberi warna pada hidup abu-abuku,” tegas sang lelaki dulu.

Dan kemudian masa berlalu. Air mata berganti menjadi tawa untuk kemudian kembali berganti air mata dan kembali lagi menjadi tawa. Sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah.

Tujuh tahun kemudian di suatu malam. Air mata kembali jatuh dari mata sang perempuan. Matanya memandang wajah anaknya yang lelaki. Anak tampan buah pernikahannya dengan sang lelaki. Dibelakangnya, sang lelaki merutuki setiap kesalahan dan kealpaan yang dibuatnya. Kesalahan dan kealpaan yang sama, yang membuatnya menjadi semanusianya manusia, yang terus alpa.

Tapi sang lelaki kembali mahfum, dirinya yang salah. Memang dirinya yang salah karena tak lagi bersikap saat dahulu sang perempuan belum menyatakan bersedia untuk mendampinginya. Dan kini dia mengingatkannya dengan air matanya.

Untuk perempuan yang sudah memberikan semuanya, terima kasih sudah menerima apa-apa yang tidak aku punyai dan terus mengajari apa-apa yang belum aku pahami.

 

Iklan

4 thoughts on “Yayi Zulfasari : Untuk Perempuan Yang Sudah Memberikan Semuanya.

  1. Warm Februari 28, 2017 / 6:36 pm

    Smoga kalian bahagia & langgeng ya mas 🙂

    • Payjo Februari 28, 2017 / 9:28 pm

      Amin Om. Semoga begitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s