Sarjana Pertama

Bagaimana rasanya jadi seorang ibu yang selama puluhan tahun berjuang merawat sembilan anaknya dengan segala keterbatasan yang dia miliki sebagai seorang wanita dari desa pinggiran yang hanya tamat sekolah dasar melihat salah satu anaknya berhasil menjadi wisuda?

Pagi itu sepeda motor yang kukendarai membelah udara dingin di jalanan BSD. Udara terlalu dingin untuk bisa membuka obrolan dengan penumpang di belakang, ibuku. Tapi udara dingin bukan satu-satunya penyebab kami tidak mengobrol. Kepala kami sibuk dengan pikiran masing-masing meski dengan tema yang sama yaitu acara wisuda sebuah kampus di Tangerang Selatan. Kami dalam perjalanan menuju acara itu.

Ini acara paling istimewa dalam dunia akademisi yang terjadi pada keluarga kami karena meski  ibu memiliki  sembilan orang anak –dua diantaranya meninggal- ini adalah acara wisuda pertama yang kami alami. Artinya hanya ada satu orang anak yang berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan sampai bangku kuliahan. Bukan sekedar kuliah, tapi sampai selesai kuliah. Meski hanya strata satu.

Bagi keluarga kalian mungkin kuliah bukan sesuatu yang istimewa tapi bagi kami, kuliah seperti separuh mimpi. Dalam daftar kebutuhan, kuliah harus berkompromi dengan prioritas lain dan mungkin hanya menempati posisi nomor dua belas. Bukan karena tidak penting, tapi karena faktor ketiadaan biaya. Sudah  menjadi cita-cita dan mengawang-awang di pikiran sejak masa sekolah menengah pertama tapi kami menyadari kalau akan sangat sulit untuk diraih.

Tahun 1996 silam bapak meninggal karena sakit, membuat ibu lintang pukang merawat semua anaknya. Dulu ibu pernah bilang cita-citanya buat anak-anaknya dalam pendidikan hanya satu, membuat kami lulus SMA bagaimanapun caranya. Maka dia kemudian menjahit, berjualan keramik, membuat warung kecil, mencoba berternak ayam negeri, menjadi tenaga kerja ke Kuwait dan Arab Saudi, sampai menikah lagi dengan lelaki yang dirasa mampu membantunya.

Anak-anaknya dititipkan ke saudara jauh di Rangkasbitung, dititipkan ke yayasan anak yatim di Jakarta dan ada pula yang dimasukan ke pesantren di Bogor dan Tasikmalaya.

Kami paham sedari kecil kondisi ini. Kami tahu posisi dan keadaan ekonomi kami. Maka lulus dari SMA adalah fase terakhir kami bergantung ke orang tua untuk membiayai kami. Mau kuliah? Cari biaya sendiri. Meski kemudian cita-cita itu menguap seiring waktu.

Kakakku yang pertama mungkin tidak punya keinginan kuliah. Toh meneruskan usaha mendiang bapak membuatnya memiliki penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan para sarjana. Kakakku yang kedua pada suatu masa, mungkin menjelang kelulusan SMA selalu berkata bahwa dirinya akan masuk Trisakti dengan penuh percaya diri. Diucapkan separuh bercanda tapi sekaligus pengharapan yang kemudian akhirnya kandas dihantam realitas.

Kakakku yang ketiga –perempuan satu-satunya- menikah dan sibuk mengurusi keluarga. Tak ada yang lebih penting dari itu, apalagi sekedar keinginan untuk berkuliah. Mungkin ada di nomor 32 daftar prioritas, dibawah keinginan memiliki treadmill.

Anak keempat  yaitu aku hanya menjadi bukti kalau title sarjana hanya bagi mereka yang serius. Menghabiskan delapan semester di dua kampus dan jurusan berbeda hanya untuk gagal karena dua kenyataan yang ditemukan di dunia perkuliahan. Pertama, dosen dan mahasiswa terlalu mengagungkan angka dan teori kaku sebagai indkator kecerdasan. Kedua, pikirannya selama di perkuliahan penuh dengan angka-angka yang harus dibayar setiap bulan untuk kebutuhan keluarga kecilnya sementara gaji kecilnya sudah tidak mampu lagi diperas untuk membayar kuliah.

Anak kelima memilih untuk fokus mencari uang demi membantu ibu.

Anak keenam adalah anak yang acara wisudanya akan kami hadiri. Satu-satunya anak yang tidak merokok dan tidak bisa mengendarai sepeda. Apalagi sepeda motor.

Kupandangi ibu yang pandangannya menunduk ke arah para wisudawan di bawah sana. Jadi bagaimana rasanya jadi seorang ibu yang selama puluhan tahun berjuang merawat seluruh anak dengan segala keterbatasan yang dia miliki sebagai seorang wanita dari desa pinggiran yang hanya tamat sekolah dasar melihat salah satu anaknya berhasil menjadi wisuda? Air mata haru dan bangga yang keluar dari matanya –membuat riasan yang dibuat oleh menantunya sejak jam lima subuh luntur- sudah cukup untuk menjadi jawabannya.

2 respons untuk ‘Sarjana Pertama

  1. evancode April 16, 2019 / 2:02 pm

    Mau nanya Om, blogerbenteng udah gak ada yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s