Setelah Dua Tahun KBBC Kopdar Lagi

Ini adalah postingan bayar hutang. Saya sudah janji mau posting perihal kopdar komunitas bloger Tangerang setelah sekitar 2 tahun mati suri sejak bulan kemarin tapi saya tunda-tunda terus. Berhubung saya sedang melakukan pencitraan sebagai bloger yang kadang-kadang selalu menepati janjinya, jadi inilah laporan kopdar Komunitas Bloger Benteng Cisadane.

Awalnya saya mengendus adanya rencana kopdar yang dihembuskan oleh beberapa anggota di twitter. Kebetulan saya di mensyen gitu deh. Kalo nggak salah yang pertama menghembuskan rencana ini adalah Ramy di tweetnya tanggal 20 Januari 2014, bloger paling irit usianya di KBBC yang sekarang kuliah di Ngalam. Lemparan topik ini langsung ramai dibahas sementara saya cuma stalking. Sampai akhirnya disepakati acara kopdar perdana KBBC setelah vakum selama dua tahun ini adalah 26 Januari 2014 di Mardi Grass, spot hangout di Citra Raya Tangerang yang banyak cabe-cabeannya. Ini mengakomodasi masukan Bgenk yang haus wanita.

Tanggal 26, saya baca di TL kalau jam tiga sore sudah ada Ramy dan Kang Kombor yang di lokasi. Yang lain mbuh belum ada kabarnya sementara saya masih di rumah siap-siap. Saya datang sekitar jam empat sore kurang sedikit. Saya nggak telat karena memang rencananya mau datang jam segitu *colek Kang Kombor*.

Isi acaranya apa? Lha apalagi selain ngobrol ngalor ngidul? Berhubung sudah mau sebulan, saya lupa detailnya apa saja. Intinya KBBC mau dihidupkan lagi, semacam begitulah. Tapi sampe sekarang sih setelah sebulan webnya aja masih berantakan ya :mrgreen:

Yang pasti dari bloger yang datang ada Zanu dan istrinya. Menikahnya Zanu otomatis tinggal menyisakan Bgenk sebagai penyandang Jomblo ngenes di KBBC. Ramy sepertinya juga jomblo, tapi kayaknya punya pacar virtual karakter anime di laptopnya dan itu membuatnya tidak terlihat begitu ngenes. Beda dengan Bgenk yang dari tweet dan postingannya ngenes sekali. Kemudian ada Rosid yang lingkar perut dan volume pipinya semakin membengkak, mungkin efek punya pacar. Nah saya bilang juga apa, punya pacar emang bisa bikin cowok jadi gemuk karena susunya cocok? dan terlihat makmur. Kecuali Andi Sakab ya, terakhir dua tahun lalu saya lihat masih kurus juga meski sudah punya dua anak. Member KBBC yang paling ganteng, Jay Boana berhalangan hadir. Jay saya nasbihkan sebagai member paling ganteng karena Uzanc kayaknya tidak aktif menyambut kopdar ini. Tapi status ganteng Jay saya cabut kalau nantinya dia lebih asyik dengan komunitas blog detik. Catet.

Kemudian ada Kang Kombor yang justru mengurus, tambah kurus maksudnya. Dan merokok lagi kayaknya, tapi saya lupa. Silahkan konfirmasi aja Kang. Seperti biasa Kang Kombor jadi titik pusaran obrolan karena kedalaman ilmunya. Selain itu juga ada Dykapede yang membuka kopdar dengan programnya untuk KBBC. Wess salut sama inisiatifnya, monggo lanjutkan kerjanya. Saya yang sudah purna tinggal mantau aja ya. Ada juga Kang Agush yang kayaknya nggak pernah kehabisan semangat untuk datang tiap ada acara KBBC. Beda sama Eby yang justru nggak datang. Padahal sebelumnya dia sudah koar-koar bersemangat untuk datang dan melakukan diskusi tentang bukunya. Alasannya sih lupa, klasik sekali. Kordinator KBBC Andi Sakab sayangnya masih belum mau aktif kembali, belum stabil katanya. Kondisi geologi Indonesia belakangan ini memang tidak stabil sih. Ada satu lagi yang datang tapi saya lupa namanya karena baru pertama kali lihat, maaf.

Saya sendiri datang bersama istri dan anak saya Alif. Tapi kedua orang terkasih saya malah asyik maen di kids playground gitu.

Kopdar diakhiri setelah maghrib setelah sebelumnya foto-foto bareng dulu tapi lupa untuk bikin absen. Gimana cabe-cabeannya? Saya nggak begitu mantau karena ada radar isteri. Mungkin Bgenk, Ramy, Rosid dan Kang Kombor yang matanya lebih leluasa jelalatan bisa memberikan laporan tersendiri soal ini.

Di kopdar ini saya catat ada beberapa etika kopdar yang lalai dilakukan. Tidak ada absensi, tidak ada sesi perkenalan bagi yang pertama kali datang, tidak ada hasil foto bareng yang dishare, dan tidak ada laporan kopdar dari yang hadir. Jadi kabar kembali turun gunungnya bloger Tangerang kurang terdengar di ranah maya tuh.

Kopdar KBBC berikutnya kapan? Mbuh, mungkin 2016.

Kopdar KBBC 26 Januari 2014 di Mardi Grass

Kopdar KBBC 26 Januari 2014 di Mardi Grass

Februari 20, 2014 at 9:39 am 4 komentar

Saya Sedang Dalam Posisi Yang Kata Orang Ide Dan Inspirasi Mengalir Deras Yakni

Jongkok di kakus, be’ol. Dan ini idenya.

Februari 18, 2014 at 7:23 am 1 komentar

Motor Vespa Alif

Saya belum pernah punya sepeda motor vespa. Alif beruntung sudah punya sepeda motor vespa di umur belum genap dua tahun meski vespa yang dimiliki Alif bukan bikinan pabrikan Italia.

Dan seperti pemilik sepeda motor vespa lainnya, Alif juga harus sering memeriksa kondisi motor vespa nya.

Jadi, kapan ada yang mau ngajak Alif turing?

image

Februari 15, 2014 at 7:34 pm 5 komentar

Sukses Menangkap Kantuk

Saat kita mengantuk, sempatkah kita menangkap isinya dengan menuliskannya? Ini hasil tangkapan saya.
Menangkap Kantuk

Desember 19, 2013 at 10:14 am Tinggalkan komentar

Menulis Isi Kantuk

Jadi ceritanya saya memang kadang suka menulis artikel untuk dikirmkan ke redaksi, kerjaan freelance. Proses pengetikan artikel kadang saya lakukan dirumah sampai tengah malam dengan kondisi mengantuk. Sering saya tertidur saat sambil mengetik. Ketika dilihat hasil ketikan, muncul kata dan kalimat yang isinya cukup menggelikan karena saat tertidur tangan saya tetap mengetik.

Contohnya, saya menulis soal akuisisi Erick Thohir atas Inter Milan. Yang tertulis di monitor “Erick juga akan membantu kondisi masyarakat. Ini ada dua buah mangga karena di atas rak…”. Yang ingin saya tulis harusnya “Erick juga akan membantu kondisi sepak bola Indonesia dengan memberikan kesempatan melakukan trial di Inter Milan kepada pemain berbakat asal Indo….”.

 Jadi waktu mengetik tiba-tiba mengantuk, mata tertutup dan muncul sekelbatan bayangan nggak jelas, tapi bayangan yang berisi adegan hal-hal random ternyata tanpa sengaja tertulis di layar.

 Jadi kenapa tidak saya coba saja membuat postingan dengan kondisi mengantuk dan lihat akan jadi seperti apa tulisan ini.

 Oke begitu saya mulai membuat tulisan ini rasa kantuk justru hilang. Saya tidak menentukan akan menulis apa karena memang spontan saja menulis.

 00:25

Jam menunjukkan pukul 00:25. Proses menulis sempat terpotong karena saya harus membuat susu untuk Alif. Jagoan saya ini tidur sejak pukul 8 malam tadi dan suka menangis minta susu supaya pulas lagi. Saya masih belum mengantuk. Mungkin efek kopi sachet Kapal Api yang saya minum jam sebelas tadi mulai menunjukkan reaksi dalam mengusir kantuk. Daripada kelamaan menunggu kantuk, saya lanjutkan pekerjaan saya dulu.

 00:40

Belum ngantuk juga, mungkin tulisan ini dianggap gagal kalau saya tetap tidak bisa mendapat hasil dari kegiatan menulis sambil tertidur. Kaki kiri kesemutan sementara kantuk belum juga datang. Saya tahu, mungkin harus mengetik sambil tengkurep. Mungkin bisa bikin saya mengantuk. Posisi yang sangat tidak nyaman untuk mengetik karena bobot atas tubuh ditopang kedua sikut yang juga menjadi tumpuan tangan saat mengetik. Tapi kaki kanan ikut-ikutan kesemutan. Dan tetap belum mengantuk.

Mungkin harus menonton film 2001 A Space Odyssey supaya lekas menguap. Atau White House Down yang bikin bosan. Nah, otak

 05:00

Gagal

Oktober 18, 2013 at 1:39 pm 2 komentar

Pemilihan Kepala Desa Pagedangan Tangerang : Potret Demokrasi Grass Root

Oke, judulnya memang ‘keberatan’. Padahal isinya ya laporan ringan dan singkat berdasarkan pengalaman mengikuti proses pemilihan kepala desa di daerah yang namanya sama dengan  yang tertera di KTP saya. Ada tiga calon kepala desa, yang satu calon incumbent, satu lagi kepala desa periode sebelumnya yang sekarang kembali mencalonkan diri sementara calon terakhir adalah calon kepala desa yang mencoba maju untuk pertama kalinya.

Walaupun sebatas pemilihan kepala desa, uang yang berputar tidak main-main. Setiap calon minimal mengeluarkan uang 500 juta untuk membiayai pencalonan mereka. Yang paling banyak tentu untuk serangan fajar kepada warga. Jumlah pemilih di tempat saya sekitar 4000 jiwa. Kalau satu warga diberi amplop 50 ribu, tinggal kalikan saja berapa alokasi setiap calon kepala desa untuk soal ini. Warga juga antusias menunggu serangan fajar. Dengan tiga calon kepala desa, minimal uang 150 ribu didapat. Desas-desus, di kampung sebelah malah calonnya berani memberi 200 ribu setiap orang. Soal kepada siapa suara mereka diberikan, itu lain soal.

Pagi benar, tempat pemilihan sudah dibuka. Saya tidak tahu jam berapa. Jam sebelas menjelang siang saya dan istri baru datang ke lokasi. Orang sudah mengantri, tukang minuman dan makanan berjejer mengelilingi tenda besar berbentuk tiga perempat lingkaran. Di ujung di atas panggung besar, ketiga calon kepala desa Pagedangan mengibarkan bendera sesuai warna masing-masing. Kuning, merah dan hijau. Bendera yang harus mereka kibarkan sejak pagi sampai nanti jam lima sore.

Panitia mungkin kurang persiapan, atau strategi mereka mengatur pemilih ternyata meleset. Dengan jumlah pemilih sekitar 4000 warga, pengambilan suara belum berakhir sampai jam 5 sore. Pemilih disediakan dua tempat masuk, wanita dan pria. Ada tiga meja pengambilan kartu suara. Panitia dari masing-masing meja akan mengambil satu persatu warga. Tiga meja, tiga microphone, satu speaker output. Ini yang membuat proses pemilihan berjalan lama.

Speaker yang mengarah ke belakang antrian pemilih, suara microphone dari tiga meja panitia saling bersahutan, ibu-ibu yang sibuk mengasuh anak dan mengobrol dan tidak memperhatikan ketika nama mereka dipanggil. Semuanya menyatu. Banyak nama yang dipanggil tapi terlewat karena suara microphone tidak jelas menyebut siapa. Jam satu siang tempat pemilihan ditutup untuk istirahat dan setelah dua jam itu, saya dan istri belum dipanggil juga. Cuma bikin peluh merayapi kulit kepala melewati pantat sampai ke betis. Panas betul siang itu di lapangan Pagedangan.

Jam satu saya dan istri dan Alif kembali ke lapangan. Jam dua siang saya baru dipanggil. Sambil menggendong Alif saya menunggu istri yang belum juga dipanggil. Sempat turun hujan besar. Tanda dari dukun kalau calon dengan bendera merah bakal menang katanya. Karena Alif rewel dan hujan sedikit reda, saya pulang. Jam empat saya kembali menemani istri yang sudah kesal tidak karuan menunggu panggilan. Banyak yang memilih pulang saking kesal menunggu. Isteri saya kebetulan salah satu calonnya masih saudara, jadi pantang mundur sebelum memberikan dukungan.

Ternyata ada pemilih yang namanya hampir mirip dengan nama isteri saya dan menggunakan hak suaranya. Panitia tidak memverifikasi setiap pemilih yang dipanggil untuk menghindari kesamaan nama, dan begitulah jadinya. Panitia semakin capek, polisi yang menjaga mulai emosi dan ibu-ibu yang belum dipanggil semakin darah tinggi. Setelah enam jam menunggu, isteri saya dipanggil dengan nama yang mirip dengannya. Terakhir.

Hasilnya, calon berbendera merah menang dengan perbedaan 60 suara. Begitulah demokrasi tingkat bawah di tempat saya. Lalu, dapat berapa saya dari serangan fajar? Sayangnya saya tidak diserang tuh.

Juli 1, 2013 at 4:14 pm Tinggalkan komentar

Oke ini postingan yang niatnya tidak ditujukan untuk pembaca tapi untuk saya sendiri tapi sengaja saya tulis di blog dengan kemungkinan ada yang baca selain saya karena memang ada pengharapan agar orang lain membacanya

Dahulu, dahulu sekali kalau menggunakan ukuran waktu blogosphere seorang blogger pernah bicara tentang kiat menumbuhkan niat update blog itu dengan membaca postingan lama kita. Dan saya lakukan itu. Dan bikin saya malu.

Jadi terlihat jelas sejak dulu sampai sekarang memang saya cuma punya masalah satu, suka sekali mandek menulis blog dan misuh-misuh tentang itu di blog. Oke, paragrafnya tidak berima. Goblog.

Paragraf ini topiknya meloncat ya. Sering sekali saya menulis dengan pemikiran apakah postingan saya akan disukai pembaca? Apa bakal ada minimal lima komentar? Saya mencoba menulis dengan sudut pandang pembaca. Seringnya saya tidak pede dengan tulisan sendiri dan memilih untuk tidak jadi dipost. Tapi beberapa tulisan lama saya dengan jelas menyarankan untuk menulis saja, jangan pikirkan hal lain. Entah itu pembaca akan suka atau tidak, fesbuk dan twitter yang belum diupdate statusnya, blogger lain yang mati suri atau sudah berorientasi uang dan paid review, atau kebenaran ramalan Roy Suryo tentang blog yang hanya tren sesaat. Ketik saja dan jangan stop.

Setidaknya, menulis membuat otak saya tetap berfikir tentang sesuatu. Itu lebih baik dibanding membaca informasi yang membludak setiap hari dan membikin saya mengalami problem lemahnya ingatan jangka pendek.

Juni 27, 2013 at 8:48 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Timeline

KBBC

Bloger Rangers!

Photobucket

Status saya

Networked Blogs

if(typeof(networkedblogs)=="undefined"){networkedblogs = {};networkedblogs.blogId=207085;networkedblogs.shortName="payjo";}

Arsip

Feeds


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 236 pengikut lainnya.