Jangan Lihat Videonya

Sayenko & Suprunyuk

 

What if

Tukang sayur yang saban pagi berkeliling keluar kampung dan komplek, yang suka berhenti di depan pos ronda dekat rumah, yang kau langgani untuk membeli wortel, kentang dan kangkung, yang selalu menyapamu dan ibu-ibu lain dengan senyum sumringah, yang kadang kau bayangkan bisa kau potret dan kau berikan keterangan sebagai potret wajah Indonesia, adalah seorang pembunuh. Meski pembunuhannya sudah lama berlalu dan tidak diniatkan sebagai pembunuhan. Pembunuhannya tidak akan terjadi jika saja orang yang dia rampok tidak bangun dan berteriak, sehingga memaksanya mengayunkan golok sepanjang lengan ke kepala korban, membuat coakan besar di pelipis kiri melewati mata. Dan goloknya baru berhenti saat tertahan di tulang hidung, menancap kuat. Dia terpesona semburan darah dan suara krak tulang yang retak. Dan dia lari, ribuan kilometer. Hukum terlalu lemah untuk mencarinya, dan dia melanjutkan hidup sebagai tukang sayur yang barusan memberimu senyuman sebagai jawaban atas pertanyaanmu bolehkah kangkung seikat seribu ditawar lima ratus. Kau dan aku, kita, tak pernah tahu kalau dalam khayalnya dia menyodok mulutmu dengan goloknya menembus leher belakang. Karena dia rindu dengan semburan dan suara krak itu. Dan melakukan pembunuhan perkara gampang.

Baca lebih lanjut

Memutuskan Balikan Dengan Mantan

Jangan pernah mencoba berhubungan dengan mantan apapun alasannya jika tidak mau kembali menjalin ikatan. Ini peringatan.

Peringatan dari orang yaitu saya, yang akhirnya memutuskan untuk kembali menjalin ikatan dengan mantan lamanya yaitu blog ini.

Saya harus menelan ludah sendiri karena memutuskan untuk membuka kembali blog yang 10 bulan lalu ditutup. Ada banyak alasan, tapi hanya ada satu penyebab. Sebabnya adalah pada suatu waktu, tepatnya pekan kemarin saya membaca ulang semua tulisan diblog ini. Yak betul, semua tulisan. Hasilnya, saya putuskan buat membuka blog ini lagi.

Jadi begini, Baca lebih lanjut

#70. Buku dan Masa Kecil

Dari segelintir tulisan saya soal cerita masa kecil, tulisan ini menjadi salah satu yang paling berkesan karena merekam hobi masa kecil di sebuah kota yang juga kecil, Rangkasbitung. Bagi beberapa kawan di fesbuk saya, mungkin bisa jadi saksi karena kebetulan ada yang bersekolah di sekolah yang sama. Ini juga sebagai penanda, saya mencoba fitur Blog Ulang milik WordPress.

Payjo

Sekitar tahun 1999, ketika Indonesia baru satu tahun mengecap reformasi umur saya masih 12 tahun. Saya kelas 6 SD dan sebentar lagi menjalani Ebtanas, ujian akhir kelulusan sebelum pada tahun 2003 berubah nama menjadi UAN. Saya ingat sekali waktu itu bersekolah di MCT V Rangkasbitung, sekolah dengan bangunan paling mengenaskan diantara bangunan SD lain yang ada di sebuah komplek pendidikan berisi kurang lebih 6 buah SD. Punggung bangunannya melengkung mau roboh, yang dulunya saya kira mahakarya arsitek lokal. Lapangan olahraga dari tanah liat putih yang baru kelas 5 bisa digunakan secara layak setelah sejak kelas 3 guru olahraga kami mengajak anak muridnya gotong royong meratakan tanah.

Kondisi ruangan kelas setali tiga uang. Lantai ubin kasar, kursi-kursi penuh coretan dengan kaki pincang, meja yang sebagian bolong. Malah di kelas 6 salah satu teman sekelas -Rani namanya, dipanggil secara kurang ajar oleh teman sekelas dengan sebutan Kutu Kupret karena hobi mencari kutu-

Lihat pos aslinya 557 kata lagi

Pluviophile

Sekali waktu, nikmatilah suasana hujan.

Hujan masih menyisakan gerimis cukup lebat. Kutengok jam didinding kantor, sudah pukul tujuh malam. Jika bukan karena telepon dari istri yang menanyakan kapan akan pulang, mungkin aku masih beranggapan tak apa menghabiskan sebelas jam lebih waktuku hari ini dikantor. Pertanyaan istri lewat telepon tadi mengingatkanku jika semestinya dingin udara selepas hujan besar yang mengguyur sejak sore hari dan kemungkinan badan basah karena tak membawa jas hujan, akan terbayar lunas dengan kehangatan pelukan anak dan istriku dirumah.

Lekas kuberesi laptop, kumasukkan tas lalu kusimpan diloker. Biarlah Il Mare yang baru ku unduh tidak ku tonton dulu dirumah. Kupasang kabel audio handfsree dan, memutar lagu secara acak lalu mulai beranjak ke parkiran. Lantai parkiran motor sebagian tergenang air. Helm yang biasa kucantolkan di kaca spion juga basah. Tak peduli, kupakai acuh helm basah itu. Pun jok Si Vixy, tanpa kukeringkan dulu langsung kududuki saja dan mulai menghidupkan motor. Suara knalpot mengaum pelan, perlahan hilang ditimpah lengkingan suara gitar dari Asian Kungfu Generation ditelinga, memainkan tembang Siren. Secara perlahan kemudian penglihatanku mulai memendar. Pemandangan malam hari sehabis hujan membius pandangan. Lampu penerangan jalan berpendar, menampilkan sekelebatan gerimis dibawahnya. Aspal hitam yang biasa kusam kini tampak cemerlang serupa masir raksasa yang memantulkan lampu-lampu mobil dan motor. Suasana jalanan selepas hujan menjadi lebih hening, menentramkan.

Tanpa diperintah, otak memutar ulang beberapa fragmen kehidupan. Abah meninggal, menikmati tanah berpasir disebuah pesantren Tulungagung, kelahiran Alif. Bagian tubuh yang menamai dirinya sendiri tersebut juga menampilkan fragmen tidak menyenangkan. Rangkaian angka-angka yang harus segera dibayar, rencana masa depan yang tidak tersusun secara rapi dan tanpa target. Menjelang flyover, sebuah mobil mewah tertimpa pohon besar. Kap mesin mobil tersebut ringsek sementara sang pengemudi dengan pakaian necis tampak tersenyum sambil menelepon. Mungkin pikirannya tak risau karena kerusakan mobilnya akan digantikan asuransi.

Vixy terus dipacu meski jarum bensin sudah bersua huruf e besar disamping kiri pada indikator. Bukan pasal harga bensin yang naik membuat Vixy absen diisi tadi pagi. Tapi memang ini akhir bulan. Berapapun harga bensin, Vixy harus memaklumi jika ditanggal tua begini, dia harus bersabar diri tidak pernah kenyang diisi bensin. Perseneling tiga, putaran mesin sudah lima ribu sekian. Vixy bergetar, menjatuhkan tetesan air disebagian badannya. Setetes air turun dari bagian atas spion, membelah kaca membentuk curva tak jelas. Perhatian kepada tetesan air dan lantunan lagu My Immortal milik Evanescene sempat membuat kendaliku terhadap motor menghilang, laju motor ternyata mengarah ke lajur kanan sebelum akhirnya pekikan keras klakson mobil dibelakang mengembalikan kesadaran. Suasana malam hari selepas hujan memang membius pikiran.

Musim hujan baru saja bermula diawal November. Cuti tahun ini menyisakan banyak dan tidak ada niat kuambil. Dengan kondisi begini, menjanjikan banyak waktu buatku menikmati hujan saat kupacu badan mengarah pulang.

Pluviophile adalah sebutan yang disematkan bagi orang yang menggemari suasana saat hujan turun. Yang merasakan kesenangan dan ketenangan batin kala hujan turun.